Kamis, 02 Juni 2016

Sedikit tentang Rindu.



Istimewa



Sebetulnya aku masih tidak mengerti. Di saat hati merasakan sesuatu hal yang tidak biasa, seakan ada satu hal yang mengganjal. Tidak memaki, tidak mencaci. Seperti ingin keluar. Berteriak, meluapkan yang tertinggal. Orang sebut ini rindu. Sebuah perasaan yang mendamba sebuah pertemuan. 
 
Kala itu jalan lengang. Hujan turun. Terduduklah dua orang anak manusia yang menyebut dirinya “aku” dan “kamu”. Obrolan mengalir apa adanya, diselingi tawa. Apapun dibahasnya. Masalah pendidikan, perasaan hingga dialog-dialog film yang menurutnya tidak terlalu penting. Kedua bola mata itu saling bertatap. Berisi kekaguman atas apa yang telah diciptakan Tuhan. Keindahan. Darahnya berdesir kala itu. Mengalir lebih cepat, menimbulkan perasaan yang tak bisa diungkapkan secara gamblang. Kelima jarinya menyatu, terselip ke setiap celah. Saling menggenggam. 

Hujan reda. Lalu lalang kendaraan semakin hilang. Pergi. Tidak seperti perasaan yang masih tinggal. Di hati, bersama sebuah harapan. 

Pertemuan itu tidak kilat, hanya terasa singkat. Manusiawi, tidak pernah puas. Hingga muncul perasaan itu, rindu. Ingin mengulang, ingin kembali. Dipeluknya, bersandar di lengannya. 

When I fall in love; there are no butterflies in my stomach, but there is a Godzilla in my chest. – Anonymous.


 by Geen