Sabtu, 20 Februari 2016

When LGBT becomes tranding topic in Indonesia.



           

Istimewa
           Apa yang terbesit pertama kali saat mendengar kata LGBT? Yang jelas pasti banyak yang akan menjawab terasingkan dan sedang hangat diberitakan.

            Sebetulnya entah dari mana awalnya mengapa tiba-tiba kaum pelangi ini menjadi seakan makanan sehari-hari. Di koran ataupun media penyiaran berita lainnya, LGBT hampir selalu menjadi headline news. Mau dikata apa, gue sejujurnya tidak pernah peduli dengan pemberitaan apapun tentang LGBT. Baik promosi atau propogandanya, gue bukan salah satu aktivis, gue hidup sendiri dan tidak tertarik untuk ikut berurusan meminta belas kasihan mengenai hak asasi. This is Indonesia. Sebagaimanapun perjuangan yang dilakukan, toh sudah jelas akan berakhir nihil. Bukan berusaha untuk mematahkan semangat kalian, tapi biarkanlah kehidupan seperti ini hanya menjadi urusan pribadi masing-masing.

            Rasanya, di paragraf tadi gue sukses menjadi orang yang pintar, atau lebih tepatnya sok’ pintar. Lupakanlah, anggap saja gue gak ngomong apa-apa.

            Berawal dari mata kuliah Debate and Discussion beberapa hari lalu, tangan ini mulai gatal mengajak gue untuk menulis pengalaman itu. Kebetulan tema yang menjadi bahan perbincangan saat itu adalah LGBT.

            Apa yang salah dengan menjadi bagian dari LGBT? Dosa? Jika mengaitkannya dengan dosa, semua orang yang hidup pun berdosa dengan caranya masing-masing. LGBT dianggap dosa dan menjijikan, sedangkan kumpul kebo malah dianggap “lebih baik” karena “lebih mendingan”, dilakukan oleh laki-laki dengan perempuan. Tapi bukan saja tetap dosa? Nobody wants to be gay. Benar, kan? Rasanya tak perlu ikut campur menghitung seberapa banyak dosa orang disaat menghitung dosa sendiripun masih kewalahan.

Istimewa
            Salah satu teman sekelas gue berpendapat, LGBT itu dapat mempengaruhi dan termasuk ke dalam penyakit. Intinya dia berpikir bahwa di Indonesia lebih baik tanpa ada LGBT, dan harus diusir. 

            Well, dude. It is not as simple as you think! Gue yakin, jika diusir dan dibiayai negara, kaum LGBT lebih banyak yang akan pindah ke luar negeri daripada memilih tinggal di negara yang jelas-jelas gak menerimanya. Tapi sayangnya, orang-orang di Indonesia hanya bisa koar-koar saja, pandai berteori ini itulah, menjelaskan darimana gay berasal, namun hanya sebatas itu. Apa yang mereka jelaskan tidak dibarengi dengan solusinya. 10 tahun membahas perkara inipun tidak akan pernah selesai. 

            Dan bagi orang-orang yang menganggap bahwa menjadi bagian dari LGBT itu penyakit dan bisa disembuhkan, please answer my question!

            Are you sure that all of your family members are straight? If you find that one of them is part of LGBT, then you just try how to change him or her to become straight as easy as you think. And if it works, do it to others!

            Percayalah, orang-orang disekitarmu ada yang merupakan bagian dari mereka. Jangan terlalu judgemental, jika saudaramu sendiri yang merupakan bagian dari LBGT, bukankah ia juga akan terluka? Gue gak membenarkan perilaku LGBT, i know it is wrong. But, what am i supposed to do? Terlalu munafik untuk berpura-pura menjadi seorang homophobic disaat gue merupakan bagian dari mereka.


By Geen