Selasa, 26 Januari 2016

When i find gay moment among straight people.





Istimewa
            Well, setelah mendapat kesuksesan yang cukup besar selepas merilis “Magic Hour” (2015), Screenplay Films siap merilis film bergenre romance pada tanggal 04 februari 2016 mendatang dengan kembali memasangkan Michelle Ziudith dan Dimas Anggara. Film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama, “London Love Story”.

            Tergabung dalam  salah satu komunitas penggiat dan penikmat film di kota Bandung, gue mendapat kesempatan untuk bisa menonton film ini lebih dulu, secara gratis. Yaitu tepat tadi pagi, tanggal 26 januari 2016 di Empire XXI, Bandung Indah Plaza. Karena ini termasuk kegiatan premiere screening tentunya ada yang spesial, yaitu kedatangan salah satu pemain, Dimas Anggara. 



            Untuk masalah sinopsis, bisa tinggal dilihat langsung di mbah google. Yang jelas ini bukan film yang benar-benar bagus. Tapi tentunya lebih baik dari “Magic Hour” yang berhasil tampil dengan sangat garing. “London Love Story” memiliki nilai plus dari gambarnya yang sangat cantik. Pengambilan gambar di London dan Bali terekam begitu memukau. Penampilan Michelle Ziudith boleh lah dikatakan baik, ia nampak tampil prima memerankan karakter yang bernama Caramel Nugroho. Sentuhan komedi dari Ramzi pun cukup berhasil membuat penonton riuh tertawa. 

            Sebetulnya gue bukan ingin membahas tentang film ini. Jelas, ini bukan film gay. Tapi ada suatu kejadian yang menurut gue menarik perhatian dan lucu. Tentunya kedatangan salah satu pemain lah yang memancing banyak penonton yang datang. Pasti, diantara mereka ada yang berniat untuk bisa berfoto dengan aktor idamannya itu. Namun sayangnya yang bisa berfoto dengan Dimas Anggara hanyalah penonton yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan crew setelah pemutaran film selesai.



            Guess what!? Beberapa diantara penonton yang antusias untuk bisa berselfie ria bareng Dimas adalah laki-laki. Mungkin untuk beberapa orang, hal ini biasa-biasa saja. Pria suka ke artis pria, apa yang salah? Tapi menurut gue pribadi ini agak menggelikan. Karena biasanya hal-hal seperti itu malah menjadi awkward. Namun beruntungnya, salah satu diantara pria-pria itu berhasil menjawab pertanyaan dengan baik. Selain akhirnya bisa berfoto dengan Dimas, pria yang memakai baju biru itupun mendapat merchandise berupa kaos bertuliskan judul film nya.

            Dan yang membuat suasana terbalut tawa adalah disaat pria itu mendekati Dimas untuk berfoto, hampir semua penonton yang ada di dalam theatre bersorak, “Ciee... Cieee...” It felt like LGBT was not a big deal anymore, people thought it was fine and normal!
 
            Itulah moment yang ingin gue ceritain dari awal. Memorable! Bahwa ternyata mereka bisa dengan begitu mudahnya bertingkah seakan-akan laki-laki dengan laki-laki itu bukan perilaku yang menyimpang seperti yang dipikirkan banyak orang. Walaupun mungkin hanya sebatas guyonan, but yeah, i love them.

            Kembali lagi ke film tadi, bagi yang memang suka drama romance dengan bumbu komedi, bisa lah di tonton. I am not allowed to tell the story, but actually it’s predictable. Gue gak merekomendasikan film ini ya, silahkan dipikirkan matang-matang. No matter what kind of movie, when it is free, i will watch it! #BanggaFilmIndonesia #LondonLoveStory #HaPerNas


By Geen

           

2 komentar:

  1. Ya pastinya org org pda bilang cie cie tuh cuma becanda keles. Soalnya kalo gay beneran ya mana mungkin digituin 😆

    BalasHapus