Jumat, 29 Januari 2016

Perhaps, Indra Bekti calls this shit.



           
liputan6.com
           
Akhir-akhir ini kasus seputar LGBT memang sedang hangat diperbicangkan berbagai pihak dan kalangan. Sutradara kenamaan Indonesia, Joko Anwar termasuk menjadi salah satunya. Jika dilihat di akun twitter pribadinya, ia sering sekali bercuit mengenai permasalahan tentang kaum pelangi tersebut.

            Well, di tengah naiknya pemberitaan mengenai per-pelangi-an, justru muncul masalah dari dunia entertainment Indonesia yang masih ada kaitannya dengan LGBT, yaitu kasus dilaporkannya Indra Bekti oleh seorang aktor FTV yang bernama Lalu Gigih Arsanofa. Honestly, setelah melihat penampakan seseorang bernama Gigih tersebut, rasanya gue malah tidak pernah melihat wajahnya nongol di tv. Is he really an actor?
 
            Lewat pengacaranya, Gigih mengatakan bahwa ia mendapat ajakan baik secara langsung ataupun berupa pesan singkat dari Indra Bekti untuk berhubungan badan. Bahkan katanya, Gigih pernah mendapatkan perlakuan tidak senonoh, perlakuan yang tidak pantas dilakukan kepada sesama laki-laki, di dalam sebuah kamar. 

Lalu Gigih Arsanofa bersama pengacaranya.
            Aksi aktor yang katanya muncul di Film The Raid 2: Berandal ini pun tentunya menuai banyak komentar dari pengguna social media, atau netizen. Banyak yang justru berkomentar negatif atas tindakannya. Bahkan ada yang menyebutnya munafik dan sok suci, terlalu mudah bertindak tanpa melihat posisi Indra Bekti yang sudah berkeluarga.

            Terlepas dari benar atau tidaknya ajakan Indra Bekti ataupun perlakuannya, yang membuat dirinya dilaporkan ke pihak berwajib sehingga sedang ramai diperbincangan akhir-akhir ini. Ada bukti yang sudah menyebar, sebuah rekaman perbincangan kedua belah pihak di telepon. Bukti yang sangat meyakinkan, bahwa pihak yang dilaporkan memang seorang gay. But, yeah, who knows?

            Just listen carefully!

            Terdengar sekali kecemasan Indra Bekti melalui suaranya. Berkali-kali ia bertanya, berkali-kali ia juga meyakinkan untuk segera mengakhiri kasus ini, demi nama baik pihak-pihak yang terlibat. Sedih juga sih dengernya. Kasihan lebih tepatnya.

            Kalau sudah seperti ini, apa yang harus dilakukan Bekti? Jujur, gue juga menyayangkan tindakan Lalu Gigih Arsanofa yang sudah tega melaporkan Indra Bekti atas kasus yang menurutnya penting, mungkin. Being a gay is not a big deal! Kalau dia gak suka, tinggal bilang dan menjauh, and it means that he is a homophobic. Tapi kalau seperti ini, tentunya ada pihak yang dirugikan. Alih-alih untuk mendapat ketenaran, toh nama dia juga terlanjur tercemar. Kasus yang dia laporkan adalah masalah orientasi seksual yang menyimpang, dan ini tabu. Lihat Jupiter, dulu dia mengaku seorang gay dan karirnya langsung turun. This is Indonesia!

            Jika itu merupakan caranya untuk bisa dikenal banyak orang, he chose the wrong way to be famous. Mungkin memang pada dasarnya stupid people just think which way is the fastest not the best to reach goals. Poor, Indra Bekti. Cup cup cup!


By Geen
           

Selasa, 26 Januari 2016

When i find gay moment among straight people.





Istimewa
            Well, setelah mendapat kesuksesan yang cukup besar selepas merilis “Magic Hour” (2015), Screenplay Films siap merilis film bergenre romance pada tanggal 04 februari 2016 mendatang dengan kembali memasangkan Michelle Ziudith dan Dimas Anggara. Film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama, “London Love Story”.

            Tergabung dalam  salah satu komunitas penggiat dan penikmat film di kota Bandung, gue mendapat kesempatan untuk bisa menonton film ini lebih dulu, secara gratis. Yaitu tepat tadi pagi, tanggal 26 januari 2016 di Empire XXI, Bandung Indah Plaza. Karena ini termasuk kegiatan premiere screening tentunya ada yang spesial, yaitu kedatangan salah satu pemain, Dimas Anggara. 



            Untuk masalah sinopsis, bisa tinggal dilihat langsung di mbah google. Yang jelas ini bukan film yang benar-benar bagus. Tapi tentunya lebih baik dari “Magic Hour” yang berhasil tampil dengan sangat garing. “London Love Story” memiliki nilai plus dari gambarnya yang sangat cantik. Pengambilan gambar di London dan Bali terekam begitu memukau. Penampilan Michelle Ziudith boleh lah dikatakan baik, ia nampak tampil prima memerankan karakter yang bernama Caramel Nugroho. Sentuhan komedi dari Ramzi pun cukup berhasil membuat penonton riuh tertawa. 

            Sebetulnya gue bukan ingin membahas tentang film ini. Jelas, ini bukan film gay. Tapi ada suatu kejadian yang menurut gue menarik perhatian dan lucu. Tentunya kedatangan salah satu pemain lah yang memancing banyak penonton yang datang. Pasti, diantara mereka ada yang berniat untuk bisa berfoto dengan aktor idamannya itu. Namun sayangnya yang bisa berfoto dengan Dimas Anggara hanyalah penonton yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan crew setelah pemutaran film selesai.



            Guess what!? Beberapa diantara penonton yang antusias untuk bisa berselfie ria bareng Dimas adalah laki-laki. Mungkin untuk beberapa orang, hal ini biasa-biasa saja. Pria suka ke artis pria, apa yang salah? Tapi menurut gue pribadi ini agak menggelikan. Karena biasanya hal-hal seperti itu malah menjadi awkward. Namun beruntungnya, salah satu diantara pria-pria itu berhasil menjawab pertanyaan dengan baik. Selain akhirnya bisa berfoto dengan Dimas, pria yang memakai baju biru itupun mendapat merchandise berupa kaos bertuliskan judul film nya.

            Dan yang membuat suasana terbalut tawa adalah disaat pria itu mendekati Dimas untuk berfoto, hampir semua penonton yang ada di dalam theatre bersorak, “Ciee... Cieee...” It felt like LGBT was not a big deal anymore, people thought it was fine and normal!
 
            Itulah moment yang ingin gue ceritain dari awal. Memorable! Bahwa ternyata mereka bisa dengan begitu mudahnya bertingkah seakan-akan laki-laki dengan laki-laki itu bukan perilaku yang menyimpang seperti yang dipikirkan banyak orang. Walaupun mungkin hanya sebatas guyonan, but yeah, i love them.

            Kembali lagi ke film tadi, bagi yang memang suka drama romance dengan bumbu komedi, bisa lah di tonton. I am not allowed to tell the story, but actually it’s predictable. Gue gak merekomendasikan film ini ya, silahkan dipikirkan matang-matang. No matter what kind of movie, when it is free, i will watch it! #BanggaFilmIndonesia #LondonLoveStory #HaPerNas


By Geen

           

Jumat, 01 Januari 2016

Sometimes rain brings memory back.



           
Istimewa
              
Hello, Gaypals! Bagaimana hari pertama di tahun 2016? Selalu semangat dan jangan lupa bahagia tentunya.

            Ini tulisan pertama gue di tahun 2016 ini. Gue nulis ini sambil ditemani semilir angin, kebetulan Bandung lagi diguyur hujan. Biasanya hujan datang membawa memori masa lalu bahkan yang hampir terlupa. Dan kali ini gue mau bercerita tentang seseorang yang sekarang entah dimana.

            Bagi pembaca blog ini, pasti selalu lihat di bawah atau di bagian akhir tulisan gue selalu sisipkan “By Geen”. Bagi seorang penulis, ada istilah nama pena, dan sebutlah itu sebagai nama pena gue. Terus apa? Cuma sekedar mencurahkan isi hati, dan bercerita dari mana nama itu berasal. Boleh, kan?

            Ada cerita yang cukup unik, buat gue khususnya, mengenai nama ini. Dulu, gue kenal seseorang dari Grindr. Biasalah awalnya saling mengenalkan diri, dan sebagai seorang gay yang masih belum terlalu terbuka, gue punya nama lain untuk disebut, tidak secara langsung menyebutkan nama asli, simple-nya nama samaran. Kala itu mungkin nama gue terlalu keren, dan dia sedikit bertanya. Singkat cerita akhirnya gue ngasih tahu nama asli gue. Dia bilang, “That’s a good name. Gin, sounds good.” Seperti itulah kira-kira kalimatnya. Gin diambil dari potongan nama gue. Dan pada saat itu setelah dipikir-pikir oke juga. Simple, dan mudah diucapkan. Akhirnya gue memutuskan untuk menggunakan nama itu sebagai nama pena. Cuma gue ganti cara penulisannya dengan mengganti huruf ‘i’ menjadi double ‘e’.

            Sayangnya, seseorang yang memberi gue nama itu sekarang entah dimana. Seseorang yang memiliki nama, yang satu nada dengan nama yang dia kasih. Kami kenal cukup lama, berbulan-bulan. Namun sebetulnya gue juga bingung, apa yang benar-benar terjadi hingga gue kehilangan kontaknya. Terakhir dia berucap bahwa tahun 2016 akan melanjutkan study-nya ke luar negeri. 

            Di dunia ini kan tidak ada yang tidak mungkin, bisa saja waktu membawanya ke blog ini, dan jikalau seandainya dia bisa baca ini, gue Cuma mau nanya, “Gimana kabarnya?” dan tentunya memberi ucapan selamat tinggal dan pendidikannya lancar. 

            Hujan masih setia turun, membuat udara semakin dingin. Mungkin dari setiap butir air yang turun lah, kenangan-kenangan ada disitu. Mungkin satu hal yang ingin gue kasih, jikalau kita punya seseorang, teman atau lebih, jangan sampai kehilangan komunikasi. Karena saat waktu memisahkan, tidak ada perantara yang bisa menghubungkannya kembali. Yang tersisa hanya harapan, dan belum tentu kita bisa sabar sampai bisa dipertemukan kembali. Atau sialnya memang benar-benar terpisah. Diingat ya, pals!

            Well, thanks for the name, bud!

By Geen