Jumat, 13 November 2015

Only words can explain (Part IV)

Istimewa


            Kali ini tiba-tiba saja otakku mengajakku untuk menjadi lebih pintar dan sejenak berlaga tuli terhadap perasaan. Mau sampai kapan aku bergaul dengan prosa-prosaku yang aku yakin hanya dianggap sebagai kertas yang tergores tinta olehnya. Bukan tidak mungkin dia bisa berkata bahwa prosaku itu bagus, namun bukan itu masalahya. Aku tidak peduli pujiannya terhadap apa yang aku tulis, yang aku ingin hanya pemahamannya, itu saja.

            Saat kejadian itu memang aku penasaran. Sudah jelas-jelas aku melihatnya sedang asyik membaca lembaran kertas yang sebetulnya untuknya itu. Tapi tak sepatah katapun terucap dari bibir manisnya. Hingga akhirnya aku putuskan untuk mengakhiri prosa seriesku. Dan ini yang terakhir.

“..Untaian kata usang yang tak pernah usai..”
‘Keempat’

          Aku sangat bahagia saat melihat kau tersenyum, meskipun senyuman itu tidak kau tujukan kepadaku. Entah kenapa kau begitu mampu membuatku mencair layaknya sebongkah es yang tersimpan di gurun pasir. Kau pasti tidak tahu saat aku menatap mata indahmu disetiap waktu? Meskipun kadang kau menatapku balik dan seakan curiga, jujur kuakui aku malu dan gugup. Maka dari itu aku memalingkan pandanganku dari matamu. 

          Seandainya aku bisa menghentikan waktu, aku ingin memelukmu meskipun tidak dalam sadarmu karena itu tak kan mungkin. Seandainyapun bisa, aku tak tahu kapan itu kan terjadi. Dekaplah aku, dan rasakan debar jantungku untukmu.

          Kau pasti tidak tahu bahwa aku selalu larut dalam kebingungan atas perasaan ini. Aku tak pernah menyiram dan memupukinya, tapi entah kenapa rasa ini tetap dan bahkan terus tumbuh tanpa kau tahu. Sakit! Begitu sakit saat aku sadar bahwa aku harus terus menyimpan semua ini. Betapa sakit saat aku harus merasakan rasa ini sendiri tanpa kau tahu bahkan tak kau sadari.

          Perasaanku ini layaknya semut hitam, di atas batu hitam dikala malam gelap yang begitu pekat. Tak terlihat, tapi ada. Namun aku hanya bisa menunggu dan menunggu kau hadir dengan cahayamu sehingga rasa ini bisa kau lihat.

          Setiap waktu kau selalu berputar dalam pikiranku, apakah kau tidak lelah? Pasti tidak, dan akulah yang merasa lelah. Lelah dalam perjalanan tanpa tujuan. Lelah dalam setiap detik menunggu kehadiranmu dalam nyataku. Aku memang sadar rasa ini tak mungkin dapat terwujud, tapi entah kenapa aku tak bisa tuk berhenti berharap. Berharap kudapat mendekap bulan dalam benderangnya mentari. 

          Dengarlah ini “Sang Kutub”, aku sangat menyayangimu.
                                                                                                                            
02 desember 2012    -    20:52

            Aku merasa sangat dewasa, ternyata kisah ini dapat kuakhiri dengan sangat mudah. Tentu saja, cinta memang bisa membodohi tapi tidak padaku. Aku cukup pintar untuk bisa memilih mana yg harus kujalani dan mana yang harus kuakhiri.

            Sayangnya, rasa terlalu percaya diri yang aku tulis di paragraf sebelumnya itu hanya bertahan satu hari saja. Keesokan harinya tetap saja aku kembali memikirkannya. Teringat lagi senyumannya, teringat lagi bola matanya, teringat lagi segala tentangnya. Hingga aku sadari bahwa cinta memang benar-benar gila. Kalau sudah seperti itu, apa yang akan terjadi? Tanganku menjadi gatal kembali! Kesepuluh jemariku menari-nari seakan ingin melepas rindu untuk bersentuhan dengan papan keyboard komputerku. Aku hanya bisa berusaha menahannya. Bertahan untuk sebuah harapan. Bahwa jika aku tetap setia dan tetap terus menulis tentangnya, aku tidak akan pernah bisa lepas dari genggamannya. 

            Namun aku terus berusaha untuk benar-benar melupakan apa yang terus berputar dikepalaku. Akupun berpikir bahwa aku terlalu egois karena terus berharap dia akan tahu bahwa aku menyukainya, sesuatu hal yang jelas-jelas belum tentu ia pikirkan. Yang aku maksud adalah, apa dia bisa tahu begitu saja tentang perasaanku setelah menulis tentangnya, tentang perasaan seorang pria yang mengaguminya. Aku sangat yakin, pemikiran tentang gay tak terjangkau oleh otaknya. Lagi lagi aku dibuat kebingungan.

            Karena pada dasarnya sebuah perjuangan tak akan pernah berjalan mulus, akupun tak mengerti disaat aku sedang di medan perang dalam melawan perasaanku sendiri, semua yang dia lakukan terkesan menarik. Hingga bagaimana ia berjalanpun membuat aku terkesima. Bagaimana ia berbicara membuatku semakin terlena. Berusaha dalam melupakan seseorang, justru disitulah ia semakin sering teringat. 

            Lagi dan lagi dengan tidak sopannya ia membuatku penasaran. Bagaimana tidak, disaat suatu hari aku bolos sekolah. Pada saat itu memang aku sedang ada urusan, sehingga aku putuskan untuk tidak hadir. Namun dengan jahilnya saat seorang guru bertanya alasan mengapa aku tidak hadir pada saat itu, temanku berkata bahwa aku sedang cek in bersama seseorang di hotel. Tentu guruku tidak bertanya lebih lanjut masalah itu, karena ia tahu itu hanya gurauan. Namun yang menjadi masalahnya adalah pada saat temanku pulang sekolah, si Umami menghampirinya. Ia bertanya,

            “Emang benar ya dia cek in sama seseorang di hotel?”

            Menurut temanku, sebut saja Dodo, wajahnya terlihat khawatir dan murung saat mengungkapkan pertanyaannya itu. Awalnya aku tidak percaya tentang cerita itu, tapi si Dodo berkata bahwa ia tidak berbohong, hingga berani membawa nama Tuhan jika memang si Umami benar-benar bertanya.

            Yang menjadi pertanyaanku kali ini, pertanyaan dia itu apakah hanya sekedar rasa khawatir sebagai seorang teman, atau rasa cemburu?
            

by Geen

Minggu, 01 November 2015

Gay Short Story: Secret (OneShot)

  
Catatan:
Cerita ini merupakan Cerpen kiriman dari jojoandylau@gmail.com
Bagi kalian yang ingin ceritanya di pos di blog ini, silahkan kirim ke setfire94@gmail.com

NB : Cerita ini hanya fiktif/rekayasa pengarang, maaf bila ada kesamaan nama/tokoh :)
Namaku Rey, umurku 16 tahun. Aku baru pindah ke Bandung karna ayahku di pindahkan tugasnya. Aku tingkat 11 SMA, ya mau tidak mau aku harus pindah ke sekolah baruku.

***

"Kring~ Kring~ Kring~" dering alarm dari ponselku membangunkanku, kulihat jam menunjukan pukul 05.30.

"Hmmm malas sekali harus masuk sekolah baru" ucapku dalam hati dalam keadaan setengah sadar
.
Aku beranjak dari kasur empukku menuju kamar mandi di kamarku. Selama di dalam kamar mandi aku memikirkan "akankah aku suka dengan sekolah baruku?". Seusai mandi aku menge'nakan seragam baruku. Semoga saja hari ini menyenangkan.

"Rey, ayo cepat sarapan nanti kamu kesiangan masuk sekolah" teriak bunda.

"Iya bun sebentar lagi rey turun". Seperti biasa suara bawel bundaku yang terdengar setiap pagi.
Aku pun turun ke bawah

"Selamat pagi sayang, habiskan sarapanmu ini" kata bunda

"Iya bunda ku yang bawel" canda ku

"Hari ini kamu dan sella akan masuk ke sekolah baru kalian, nanti ayah yang akan mengantar ke sekolah" kata ayah

"Huft kenapa sih harus pisah sekolah, ade kan bete klo belum begitu kenal sama temen baru" celetuk adik perempuanku

"Ya kamu jangan diam saja, ajak mereka berkenal sayang. Dulu juga waktu di sekolah lama kan sama, dari tak mengenal jadi saling mengenal" kata bunda.

"Iya bun" balasnya

 "Siap" kata adikku sambil memasang muka manjanya. Kami pun berpamitan sama bunda untuk pergi.

***

Sesampainya di sekolah baru aku di haruskan menuju ruang guru untuk mengetahui dimana kelas baruku.

**

Tok.. Tok..
"Permisi bu, saya Rey, saya murid baru pindahan dari Jakarta"

"Oh ini toh, ibu sudah menunggu kamu dari tadi nak, tapi maaf ibu tidak bisa mengantar kamu ke kelas tapi nanti ibu minta bantuan sama murid lain untuk mengantarmu"

"Iya bu, tak apa"

"Tunggu sebentar ya"

Selagi menunggu ibu guru itu kembali aku melihat sekeliling ruangan di penuhi piala dan piagam kejuaraan. Ternyata sekolah baruku ini hebat juga. Hmmm..

"Nak Rey, ini Alex, dia akan mengantarmu ke kelas."

"Tuhan, ganteng banget ini orang" ucapku dalam hati sambil menatap kosong ke arahnya

"Heh kamu kok malah bengong ayo pergi ke kelasmu" ucapnya

Aku pun mengangguk menandakan kesetujuan.

"Alex tolong antar Rey ke kelas XI IPA 2. ibu tinggal ya. " pinta bu Irma

"Baik bu" balasnya dengan senyuman.***

Saat di perjalanan menuju kelas Alex memulai percakapan ringan

"Kamu pindahan dari mana?" Ujarnya

"Dari Jakarta"

"Hmmm.. Oh iya kenalkan aku Alex, kelas XII IPA 1, aku captain basket di sekolah ini" sambil mengulurkan tangannya

"Rey ^^" dengan senyuman dan menjaba tangannya

"Nah sudah sampai ini di kelasmu, kalau mau nanti sehabis sekolah selesai aku akan memperkenalkanmu ke guru-guru lain" sambil menaik turunkan alisnya.

Tanpa berfikir panjang aku mengiyakan ajakannya, kapan lagi bisa berbarengan dengan cowo tampan sepopuler Alex.

"Yasudah nanti kamu tunggu di depan Lab. ya!" Ujarnya

"Baik kakak kelas hehehe"

Aku pun memasuki ruangan kelas, disana sudah ada wali kelasku dan teman-teman baruku. Dengan percaya diri aku mengetuk pintu dan memberi salam.

"Tok.. Tok.. Selamat pagi bu"

"Nah akhirnya kamu datang juga Rey, anak-anak perkenalan ini Rey, dia murid baru pindahan dari Jakarta. Nah Rey silahkan perkenalan dirimu"

"Nama saya Reynaldo Winata, saya pindahan dari SMA Mandiri Jakarta. Salam kenal" kataku sambil sedikit membungkukkan badan

"Kamu duduk disana ya Rey bersama Ivan"
 
"Baik bu"

Dan sepertinya aku duduk sebangku dengan anak nakal, dari segi pakaiannya yang tak rapih, rambutnya yang gondrong dan terlihat sangar. Jujur saja aku sangat takut berada di sampingnya, mimpi apa aku semalam bisa duduk sebangku dengan orang seperti.

"Heh!" Ucap Ivan

"Ya?" Balasku

"Anak baru disini jangan macem-macem ya kalau mau aman" dengan muka menyeringai
Aku hanya membalas dengan anggukan tanpa menatap wajahnya.

***

Jam pelajaran pun berlalu dan tak terasa waktu menunjukan pukul 14.30, bell tanda untuk pulang pun berbunyi, seperti perintah Alex, aku menunggu di depan Lab. sambil mendengarkan music dengan Headphone di kepalaku.

"Maaf Rey tadi ada rapat basket, lama nunggu ya?"

"Gak apa-apa kok kak, baru beberapa menit yang lalu kok"

"Ah elah jangan panggil kakak, Alex saja"

"Ohaha maaf, lex" kataku sambil nyengir

"Ayo kita mulai hehehe"

"Come on!"

Setengah jam aku dan Alex berputar dan mengelilingi sekolah dan berkenalan dengan para guru juga teman-temannya. Hanya rasa heran di pikiranku, kenapa Aku dan Alex bisa  sangat akrab, padahal aku dan dia baru saja berkenalan. Apa mungkin dia juga "sama" sepertiku? Ah tapi tidak mungkin, dia itu captain basket dan banyak di gandrungi cewe-cewe di sekolah.

"Sudah sore nih, aku harus pulang, bunda ku sudah menungguku"

"Biar ku antar ya" pinta Alex

"Ga usah"

"Ayolah gak apa-apa kok"

"Yasudahlah kalau emang kamu memaksa"

Aku berboncengan memakai motor sportnya Alex. Sesampainya di depan rumah, Alex meminta kontak ku, untuk pergi ke sekolah bareng karena rumahnya tidak begitu jauh dengan rumahku' dan sejak saat itu aku dan Alex benar-benar seperti teman sejati.

***

#22 Juli 2019# (2 bulan kemudian)

Hari ini ada ulangan fisika tapi aku lupa belajar semalam karna terus memikirkan Alex. Mungkin terdengarkan berlebihan tapi memang begitulah orang jatuh cinta bisa gila dan lupa akan segalanya.
Beberapa hari lalu tak sengaja aku menemukan tempat yang indah dan sepertinya belum terjamah orang, disana banyak pohon, bunga dan sebuah kolam ikan yang dimana ada beberapa ekor ikan mas. Suasananya tenang, sejuk dan sangat indah. Dengan bodohnya aku malah curhat kepada ikan-ikan disana. Tapi seperti ada orang yang suka memberi makan ikan-ikan ini karena tak mugkin mereka hidup tanpa makan.

#Flash Back#

"Ikan andai saja Alex memiliki rasa yang sama denganku, aku tak akan pernah menyia-nyiakannya."
Ikan-ikan itu seperti mengerti dan mendekat ke arahku. 

#Back#

Aku berencana mengajak Alex ketempat itu. Aku pun mengajaknya melalui pesan singkat.
------------------------------
Rey
Lex, nanti pulang sekolah aku mau ajak kamu ke suatu tempat yang sangat indah.
------------------------------
Alex
Hahaha oke Rey, tunggu di parkiran aja
------------------------------
Rey
Oke
------------------------------

Waktu yang ku tunggu akhirnya datang, aku menunggu Alex di parkiran sampai ia datang dan pergi ke taman itu. Aku memperlihatkan taman itu, Alex terlihat sangat excited. Akhirnya kita sepakat menamakan taman tersebut "Garden of Love"

"Lex, janji ya kita bakal rahasiain taman ini dari orang lain" kataku sambil menyondorkan kelingkingku

"Siap bos" dengan mencantolkan kelingkingnya

"Rey, kamu belum pernah main ke rumah ku. Ayo mau main gak?" pintanya

"Ayo, tapi harus banyak makanan ya hehehe" candaku

"Iya tenang aja"

Saat di perjalanan dengan tak sadar aku melingkarkan tanganku di perutnya dan pipiku di punggungnya. Iya itu karna aku sangat mengantuk.

***

Saat aku membuka mata, aku sudah berada di atas kasur. Dan aku rasa ini kamarnya Alex.

"Hei, kamu sudah sadar?"

"What's going on?"

"Kamu tadi pingsan, untuk ga jatuh dari motor. Sebenarnya kamu kenapa sih?"

"Gak apa-apa kok mungkin cuma kecapean aja. Jam berapa ini?"

"Jam 19.30"

"Haduh! Aku harus pulang nanti orang tua mencariku lagi"

"Udah tenang aja, aku udah telfon Bundamu kok untul izin kamu tidur disini hehe, aku lihat kontak bundamu di ponselmu, lagian besok kan hari minggu"

"Ah baiklah"

"Mandi dan ganti baju pakai bajuku"

"Hmmm"

Setelah selesai mandi dan mengganti baju, Alex mengajak ku untuk makan malam. Rumah sebesar ini hanya di tinggali oleh 6 orang saja, Alex anak tunggal tapi Ayah dan Ibu nya sibu dengan perkerjaannya, tak jarang Alex di tinggal keluar kota bahkan keluar negeri untuk waktu yg lama. Ia hanya tinggal bersama 3 Asisten Rumah Tangga, Satpam, Supir dan Tukang kebun.

Setelah selesai makan malam, kita beranjak kembali ke kamar Alex. Aku memandangi langit penuh bintang, sesekali tersenyum sambil membayangkan wajah Alex saat tersenyum, tenang sekali rasanya. Tiba-tiba seperti ada yang memelukku dari belakang dan hembusan nafas tepat di telingaku, keringat dingin pun terasa menetes. Aku mencoba melihat siapa yang ada di belakangku, alangkah terkejutnya aku karna yang memeluk itu Alex!! Aku mendorongnya karena aku shock bukan tak ingin.

"Rey, kamu gak usah kaget. Aku tau kok kamu itu punya rasa sama aku. Apa kamu inget waktu kamu pertama kali datang ke "Garden of Love" ? Aku ada di sana, di balik pohon besar itu, aku mendengar semua apa yang kamu ucapkan, aku sengaja menyimpan ikan-ikan itu disana dan setiap hari memang aku yang selalu memberi mereka makanan"

"Maaf lex, maaf kalau aku gay, maaf kalau aku punya rasa sama kamu. Perhatianmu, kebaikkanmu dan senyummu membuat aku suka sama kamu. Kamu boleh membenciku, asal..." Ucapan ku terhenti karena jari telunjuk Alex menekan bibirku

"Sssttttt~ aku merasakan hal yang sama sejak pertama aku bertemu kamu, kamu yang polos dapat mencuri hatiku dengan seketika. Aku selalu merasa cemburu saat kamu berduaanya dengan Ivan. Bukankah dia itu orang yang kamu takuti? Aku cemburu Rey"

"Dia hanya temanku"
 
"Aku sayang kamu!"

"Aku juga"

"Do you wanna be my boyfriend?"

"Gak bisa"

"But why?"

"Gak bisa nolak malaikat seperti kamu, lex"

Alex memeluk erat dan kami pun berpagutan.

#7 Bulan kemudian#

*POV* Alex

Hari ini aku akan mengikuti kompetisi basket se-Jabar. Rey janji dia bakal datang untuk menyemangatiku. #tiba-tiba handphone alex berbunyi tanda SMS masuk#
------------------------------
Mama Rey
Nak Alex, Rey bilang minta maaf karena dia tak bisa datang ke kompetisi basketmu. Rey sedang sakit, dia rawat inap.
------------------------------
Alex
Iya tak apa tante.
Rey sakit? Emang Rey sakit apa tante? Kok ga pernah cerita?
------------------------------
Mama Rey
Cuma panas biasa kok nak Alex
------------------------------
Alex
Yasudah tak apa tante, semoga Rey cepat sembuh
------------------------------
Mama Rey
Iya, terima kasih nak Alex
------------------------------
Aku merasa sedikit kecewa, karna orang yang sangat aku cintai tidak bisa datang. Semoga saja aku bisa fokus, aku gak mau buat Rey kecewa.

Saat pertandingan berlangsung, terdengar dari pingir lapang suara yang tak asing lagi bagiku, iya suara Rey yang meneriakan namaku. Rey disana, berdiri dengan infusan di tangannya, muka yang pucat dan rambut plontos bersama tante Rosy. Seketika semangatku pun memuncak dan saat pertandingan berjalan, tiba-tiba orang berkerubun di tempat Rey berdiri tadi, tante Rosy menangis sambil mengoyahkan badan Rey. Dan aku berlari ke arah sana dengan sigap aku mengangkat Rey dan mencoba membawanya ke rumah sakit tetapi saat aku berlari tangan Rey mengelus pipiku dan berkata

"Bawa aku ke taman itu"

"Tapi kamu sedang sakit"

"Bawa aku sekarang! Please" ucapnya dengan nada rendah

Aku pun tak bisa menolak keinginannya. Dengan menaikin mobil ku, kita pergi ke "Garden of Love"
Sesampainy disana Rey meminta untuk berdiri tetapi aku tetap memegangnya karena kondisinya sangat lemah

"Sayang, kamu sakit apa?"

"Aku Leukemia" jawabnya dengan senyum

"Kenapa kamu ga pernah cerita sama aku?"

"Aku gak mau bikin kamu sedih, aku selalu meminta Bunda untuk merahasiakan penyakitku, dan satu hal yang harus kamu tau, Bunda dan Ayah mengetahui hubungan kita dan mereka bisa menerima" jelasnya terbata

"Lihat sayang, ikan mas itu berubah menjadi warna kuning, lihat dedaunan itu berguguran dan berwarna kuning, seakan mereka mengerti kalau aku akan pergi" lanjutnya

"Engga sayang, daun itu gugur karna memang sudah tua dan ikan mas itu hanya halusinasi mu saja"

"Kamu harus janji ya sama aku, kamu ga boleh cari cowo lain. Kelak kamu harus menikah dengan cewe dan punya anak kembar, bukannya aku egois, aku gak mau terjerumus terlalu dalam" ucap Rey

Ya tuhan, ada ya manusia sekuat Rey, dia yang sedang sekarat masih bisa tersenyum dan mencoba menguatkan aku. Aku beruntung pernah memiliki kamu Rey!

Rey memelukku dan aku pun memeluknya dengan erat

"Sayang aku udah gak tahan" ucapnya sangat rendah dan terbata

"Kamu kuat sayang, kamu kuat!!" Kataku sambil terus memeluk erat tubuhnya.

Aku tak merasakan hembusan nafas Rey, ku goyahkan badannya dan terasa sangat lemas, ku dekatkan jariku ke hidungnya dan saat aku sadar saat Rey sudah tiada aku pun meneriakan namanya dan air mata membanjiri kedua pipiku.

#7 tahun kemudia#

Aku sudah menikah dengan seorang wanita cantik, ia memberiku dua anak yang kembar. Dan apa yang Rey minta dulu telah aku lakukan.
I'll never forget you Rey ❤

[The End]