Jumat, 14 Agustus 2015

Only words can explain (Part III)

 
Istimewa




           Aku kembali ke sekolah dengan prosa baruku, dengan judul yang sama namun kubumbuhi kata “ketiga”. Memang prosa ini merupakan seri ketiga dari “Untaian kata usang yang tak pernah usai”. Prosa yang kuanggap sangat spesial untuk seseorang yang ku anggap sama dengan prosa itu.


            Semakin aku menerjemahkan perasaanku melalui beberapa kata yang berhasil kuurai, semakin pula aku merasa pintar. Pintar dalam berpikir bahwa aku itu bodoh. Bodoh karena aku seperti tidak menyayangi jari jemariku yang setia menjadi perantaraku dalam setiap huruf yang tertulis, mereka pasti lelah. Lelah menjadi teman kebodohanku dalam menulis apa yang bergumam dihati yang sebetulnya percuma. Tentu percuma, karena sekalipun dia yang kutuju membaca lembaran-lembaran prosa yang kutulis ia tidak akan tahu apa yang semestinya ia ketahui. 

            Aku dibingungkan oleh perasaanku sendiri. Disaat aku benar-benar sadar, aku yakin ia tidak akan tahu bahwa aku menyukainya sekalipun aku menulis beribu-ribu kata dalam bentuk apapun dan seindah apapun. Ia tidak akan bisa membaca gerak-gerikku yang jelas kaku saat mata tajamnya sejenak melirikku walaupun tak sengaja. Ia tidak akan tahu siapa yang paling meleleh saat melihatnya tersenyum walau bukan ke arahku. Aku sadar, namun kecerdasan logikaku pun tetap saja bisa buyar. Dengan bodohnya aku berpikir bahwa dia pasti akan menerima tentang siapa aku yang sebenarnya. Dengan bodohnya aku berpikir bahwa satu-satunya cara untuk dekat dengannya adalah mengutarakan perasaan yang orang-orang sebut hina ini. Dengan bodohnya aku, dengan bodohnya aku, dan aku memang benar-benar bodoh. 

 "Untaian Kata Usang Yang Tak Pernah Usai"
'Ketiga'
 
            Senja itu semakin gelap, tak ada lagi celah untuk sinar tetap menerangi bumi. Memang tak ada kesempatanku untuk menggapai bintang dikala mentari bersinar. Tatapan ini memang tak berarti dimatamu, tapi ini mengandung berjuta rasa yang tak bisa kuucapkan. Seandainya tidak ada kata “takut” dan “malu”, mungkin kau akan tahu apa yang kurasakan padamu “sang kutub”! Tak seperti ini, terus dan tetap terus bersembunyi dalam gelap yang tak kunjung bersinar.

            Apakah aku berdosa atas rasa ini? Aku tak bisa terus bergumul dalam malam yang tak kunjung berganti siang, dalam panas yang tak kunjung berganti hujan. Aku lelah,,,, jika terus menanti pelangi dimalam hari serta menyalakan api ditengah badai. Lihatlah aku sekali saja, meskipun peluhku pasti berjatuhan dan nadiku bergejolak, aku sangat menantikan itu. Berjuta lagu cinta romantis telah aku dengar, dan aku benci saat makna itu mengisyaratkanmu. Aku benci saat aku harus kembali tergelam dalam mimpi panjang yang tak kunjung usai. Tapi lupakanlah  karena itu memang tak penting bagimu.

            Bacalah ini, aku mohon. Ungkapan jujur yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Meskipun kau anggap diriku seperti tembok yang membatu tak bermakna, aku tetap mengagumimu seperti kau mengagumi tokoh-tokoh bertubuh jenjang dari negeri sakura itu. Tak ada sedikitkah sudi untukku? Sedingin itukah engkau? Percayalah, aku tetap menyayangimu.

            Menunggu itu memang menyebalkan, tapi tidak saat kaulah seseorang yang kutunggu. Entah itu seribu tahunpun tak masalah, hingga mentari tak bersinar lagi dan malam enggan menghampiri. Hantamlah aku layaknya deru sang ombak pada karangnya, hantamkan tangan lembutmu tepat didadaku. Supaya engkau merasakan tarian-tarian tak berirama itu, yang sangat mengganggu dalam setiap langkahku menapaki bumi ini. Ketahuilah, wajahmu sudah terlukis dalam kanvas hati abadi yang takkan pudar oleh apapun.

            Sekali lagi, aku tetap disini termenung dalam diam serta meneriakan namamu dalam bisuku. Aku tetap percaya dalam nyataku atas rencana Tuhan yang indah. Wahai engkau yang kupuja, aku sangat mencintaimu .
                                                                          
29 november 2012    -    16:54

            Disadari atau tidak, aku merasa bahwa prosaku semakin lama terasa semakin emosional dan hampir putus asa. Tapi memang itu benar adanya. Kadang aku berpikir bahwa memendam perasaan ini adalah yang paling tepat. Tapi kadang pula aku berpikir aku benar-benar ingin mengutarakannya tak peduli diakhir nanti bagaimana. Karena yang aku tahu, dan yang paling aku yakini, yang akan aku dapat adalah rasa benci darinya, dan aku tak peduli lagi. Karena apa yang aku rasakan padanya itu sangatlah tulus, apapun akan kuterima, setidaknya perasaan yang telah cukup lama terpendam ini sempat terucap. Tapi ....



By Geen

Selasa, 04 Agustus 2015

Gay Short Story: If... (OneShot)



Istimewa

          
 Catatan:
Cerpen ini pernah penulis upload di blog pribadi penulis yang kini sudah dihapus dengan judul "Luka dari Sahabat". Selain judul yang dirubah, ceritanya pun mengalami perubahan disesuaikan dengan tema blog ini.

***
              Langit biru yang indah dan mentari yang bersinar dengan garang, menemaniku yang sedang berjalan di atas trotoar untuk pergi ke kampus tempatku menuntut ilmu. Meskipun sangat panas, tapi aku harus semangat. Ini adalah jalan untuk aku mendapatkan kesuksesanku kelak dan untuk mengubah nasibku menjadi lebih baik dari sekarang yang kurasa begitu menyedihkan.

            Namaku Dani, aku adalah salah satu mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kotaku tercinta ini. Aku hanya orang biasa dan dari keluarga yang sederhana. Setiap hari aku berjalan kaki dari rumah dengan jarak yang cukup jauh. Aku tak punya mobil, motor, ataupun hanya sekedar sepeda seperti teman-temanku yang lain, aku hanya dapat mengandalkan kedua kakiku sebagai alat transportasi. Mungkin, kurang lebih dari 25 menit, aku baru bisa sampai ke kampus. Makannya aku selalu berangkat dipagi buta agar tak datang kesiangan.

            “Dan, kamu udah ngerjain tugas?” teriak seorang pria yang suaranya sudah tidak asing lagi bagiku. 

        “Belum,” jawabku singkat. Aku yakin dia pasti akan melihat tugasku, aku tak mau dia terus enak-enakan hanya sekedar lihat tanpa berpikir, sementara aku berjuang semalaman mengasah otakku sampai pusing untuk mengerjakan tugas ini.

            Dia adalah Andre. Seseorang yang sangat dekat denganku, lebih dari sekedar teman. Jujur saja, ia itu kekasihku. Kami adalah sepasang Gay yang sudah sepakat untuk berkomitmen selama hampir dua tahun. 

            Kehidupan Andre sekilas terlihat bahagia, padahal sebenarnya ia korban dari ketidak harmonisan rumah tangga orangtuanya, dia memang terlihat badung, tapi sebenarnya dia baik. Dia seperti ini karena mungkin ikut merasakan sakit melihat keluarganya yang berantakan. Setiap hari aku selalu bersama Andre, dia selalu mentraktirku makan di kantin, atau hanya sekedar jajan di luar, wajar lah dia dari kalangan orang berada, tapi dia tidak pernah merasa bahagia karena itu.

            “Aku liat tugas punya kamu ya, Dan? Belum nih,” rayu Andre memintaku memperlihatkannya tugas kemarin. Sebenarnya aku tidak mau, tapi penolakan yang selalu ingin aku lakukan selalu kalah dengan rasa kasihan. Aku selalu tidak tega.

            “Ya, tenang aja. Aku pasti kasih ko, itu emang udah kebiasaan kamu,” jawabku polos mengiyakan kemauannya.

            Bel Berbunyi, saatnya jam pelajaran akan dimulai, aku dan Andre segera bergegas ke kelas. Untung saja Andre sudah selesai mengerjakan tugasnya, jadi tak perlu was-was saat menghadap dosen.

            Mata kuliah hari ini tidak terlalu berat. Jam kampus begitu cepat berakhir, saatnya pulang. Aku langsung berjalan kearah gerbang. Beda dengan Andre yang bergegas ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Jika seandainya kita searah, Andre pernah bilang bahwa dia bakal mengantar jemputku ke kampus, tapi karena berlawanan hal itu tidak akan pernah terjadi. 

            Aku berjalan dengan santai, aku tak ingin bergerak cepat, aku tak mau membuang energi, perjalananku masih jauh, jadi aku harus menghematnya. Perjalanan kali ini terasa sangat jauh dari biasanya, mungkin karena aku belum makan tadi, perutku terasa memanggil untuk segera diisi. 

            “Argghhhhh… Siall, maagku pasti kambuh,” aku bergumam dalam hati dengan merasakan mual dibagian perutku, rasanya ingin sekali aku segera sampai rumah, Tuhan Tolong!

            Saat sampai dirumah dalam kondisi tubuh yang lemah, aku langsung membaringkan tubuh di atas kursi. 

            “Ka, kaka kenapa? Sakit ya?” ku dengar suara lembut berbicara padaku, aku langsung membuka mata, karena aku sedang dalam posisi terpejam. Dan saat ku buka, ternyata itu Mila. 

            Mila adalah adikku, dia adalah satu-satunya temanku dirumah. Mila tidak sekolah, dia berhenti setelah lulus SMP, dia ingin orang tuaku fokus membiayaiku kuliah sehingga dia merelakan untuk putus sekolah, maka dari itu aku sangat menyayanginya.

            “Ya de, kayanya maag kaka kambuh, apa obat masih ada?” jawabku. 

            “Bentar, Mila cari dulu ya ka,” jawab Mila sambil berjalan untuk mencari obat.

            Sekalian menunggu Mila mencari obat, aku berjalan ke dapur untuk mencari makan. Ternyata tak ada apa-apa, hanya ada sepiring nasi yang sudah bau basi. Aku hanya bisa menghela nafas, dengan perut yang keroncongan. 

            “Ka, ini obatnya,” teriak Mila memanggilku. 

            “Ya, sebentar,” jawabku singkat dengan nada sedikit berteriak pula.

            Akupun mendatangi Mila, dan segera meminum obat itu. Untunglah obatnya masih ada, kalau tidak, aku mungkin mati kesakitan. Selesai minum obat, aku pergi ke kamar untuk tidur. Ingin rasanya melepas penat seharian, dan mungkin rasa lapar ini bisa hilang jika aku tidur. Belum saja tepat satu menit aku menutup mata, ku dengar suara ponselku berdering, sangat menggangguku, tapi apa daya, aku harus mengangkatnya, siapa tahu orang penting. 

            Aku langsung beranjak dari tempat tidurku untuk mengambil ponsel itu. 

           “Andre? Ada apa dia telpon?” tanyaku dalam hati, karena dia tak pernah menelponku selain ada Tugas, dan setahuku tak ada tugas untuk besok.

            “Hallo, ada apa, ndre?” tanyaku membuka obrolan. 

            “Aku pengen cerita, besok ya?” jawab Andre singkat dan terkesan terburu-buru. Baru saja aku mau menjawab, dia memutus telponnya secara sepihak. Aku sedikit aneh, tapi tak apa-apa tak penting juga sepertinya.

            Ketika aku sampai dikampus, Andre langsung mengajakku ke kantin. Sikapnya sedikit aneh, tapi aku tak terlalu memikirkannya. 

            “Dan, aku lupa mau cerita ini sama kamu, waktu hari rabu aku ketemu cewek cantik banget dia berjilbab,” pungkas Andre saat kami telah dapat tempat duduk. 

            “Ya, terus apa urusannya sama ku Ndre?” tanyaku polos. 

            “Jangan cemburu gitu dong, sayang. Aku Cuma pengen tahu, cocok apa nggak?” 

            “Bagaimana aku bisa berkata mereka cocok atau tidak, melihatnyapun tak pernah.” Jawabku sedikit ketus.

            Sayang, obrolan kami terhenti, karena bel masuk kelas berbunyi. Kamipun bergegas ke kelas sebelum dosen mendahului.

            Entah mengapa hatiku sedikit merasa sakit, tidak sedikit, jujur saja sangat sakit. Walau dari awal sebelum kami berkomitmen, Andre menjelaskan bahwa ia pada dasarnya seorang bisexual. Dan akupun mengiyakan permintaannya jikalau suatu saat ia menemukan wanita yang tepat untuknya, aku tidak akan melarang. Tapi aku merasa wajar saja jikalau aku merasa cemburu, karena aku bukan dari hari kemarin bersamanya. 

            Sebelum pulang tadi, Andre sempat berkata bahwa dia akan berkencan dengan perempuan itu. Aku sedikit khawatir, karena Andre bukan orang yang sangat menghormati perempuan sebenarnya. Ia sama nakalnya entah berkencan dengan pria ataupun wanita. Semoga saja perasaan burukku terhadapnya tak pernah terjadi. Bagaimanapun juga dia orang yang kusayang. 

            Entah kebetulan atau takdir, saat sedang berjalan, aku melihat Andre dengan seorang perempuan yang memang benar berjilbab, tapi aku tidak melihatnya secara jelas. Akupun berlalu begitu saja, karena aku tak mau hatiku semakin terbakar.         

            “Pagi yang indah,” ujarku dalam hati. 

            Hari ini tak ada kelas kuliah, jadi aku bisa bersantai ria dirumah. Tapi, tidak mungkin juga cuma sekedar tidur saja, aku juga harus membantu pekerjaan rumah. Saat aku keluar kamar, rasanya sepi, biasanya aku melihat Mila yang pasti sedang menyapu halaman pada jam segini, tapi sekarang dia tak nampak.

            “Bu, Mila kemana? Kok aku gak liat?” tanyaku pada Ibu yang sedang didapur.

            “Dia menginap dirumah temannya, katanya ada pesta ulang tahun,” jawab Ibu. 

            Kenapa Mila tak bercerita padaku, biasanya setiap mau pergi selalu meminta izin. Tapi tak apalah, dia sudah dewasa, aku tak perlu berlebihan mengkhawatirkannya.

            Halaman sangat kotor, mungkin karena tak ada yang membersihkannya. Akhirnya aku yang berinisiatif. 

            “Capek juga ya,” ucapku sambil terus menyapu halaman di bawah terik matahari yang mulai menyengat. Saat aku ingin masuk kamar untuk beristirahat setelah bergaul dengan panas, aku mendengar suara orang sedang berlari. 

            “Mila?” tanyaku, tapi tak ada jawaban. Akhirnya akupun keluar kamar, dan memang benar itu Mila. Ada apa dengan dia, rasanya ada yang salah. Akupun menghampirinya, tapi aku tak ingin mengganggunya, dia menangis. Sudahlah, aku tunggu sampai emosinya reda.

            Tak lama kemudian, Mila mendatangiku ke kamar, dia bercerita bahwa pacarnya meminta putus. Dalam hati aku ingin tertawa, betapa polosnya anak ini. Akupun menasihatinya dengan kata-kata bijak, dan emosinya mulai mereda. Aku tak ingin melihatnya menangis, aku begitu menyayangi Mila, aku akan berusaha melindunginya. Dengan sekuat tenaga, Mila akan aman didekatku.

            Aku merasa kurang semangat hari ini. Kulihat wajah Andre pun menunjukkan raut muka yang sedang tidak karuan. Mungkin sama sepertiku, ia sedang bosan dengan suasana belajar di mata kuliah yang tidak terlalu kami sukai.

            “Kamu kenapa?” tanyaku pada Andre. 

            Gak apa-apa,” jawabnya singkat. Aku tak terlalu memikirkannya, mungkin dia sedang ada masalah yang tak ingin orang lain mengetahuinya. Aku juga tak mau ikut campur, biar dia yang menyelesaikannya sendiri. 

            Kondisi Andre seperti tadi, membuat perasaanku tak enak. Aku tak tahu kenapa, tapi rasanya bakal terjadi sesuatu yang tidak diharapkan hari ini. Semoga saja perasaan ini hilang, berharap tak terjadi apa-apa hari ini.

            “Bu Mila kemana lagi?” tanyaku heran, karena akhir-akhir ini Mila selalu keluar rumah. 

           “Kerumah teman yang sakit katanya, mau menginap,” jawab ibu meyakinkanku. Aku tetap saja heran, tak biasanya Mila seperti ini, dia hanya seorang gadis rumahan. Aku tak ingin semua ini menjadi jawaban dari perasaan tidak enak yang ku rasakan seharian. 

            “Ya Tuhan, jangan buat aku terus khawatir,” do’aku dalam hati.

            Aku tak bisa tidur, sudah hampir jam 2 pagi mataku masih terbuka. Aku tak bisa berhenti memikirkan Mila. Perasaanku sangat tidak enak. 

            “Kenapa Tuhan?” tanyaku dalam hati. Perasaanku sungguh kacau, tapi aku berusaha tidur dan berharap semua perasaan ini hilang terbawa bunga tidur yang indah.

            Kerisauanku semalam terjawablah sudah, aku terbangun dari tidurku mendengar tangisan histeris Mila.

            “Kenapa dia?” tanyaku dalam hati sembari berlari dari kamar. 

            “Ibu ada apa dengan Mila?” tanyaku khawatir. Ibu menjawab dengan menangis. 

            “Mi .. Mi.. La diperkosa!” aku terkaget, aku langsung melemas dan menjatuhkan tubuhku kelantai mendengar jawaban dari Ibu. 

            “Ya Allah, kenapa ini terjadi?” ujarku dalam hati dalam keadaan pipi yang basah oleh aliran air mata. Mila begitu terlihat depresi, ia seakan takut melihatku. Wajahnya merah bagaikan bara, dengan tangisan yang membuat hatiku sakit melihatnya. Siapa yang tega melakukan perbuatan nista ini pada adik tercintaku.

            Hari ini aku begitu murung. Aku ingin berteriak mengeluarkan emosi ini. Mila, Mila, dan hanya Mila yang ada dipikiranku. Tangisannya terasa terdengar keras ditelingaku. Aku tak bisa konsen menerima pelajaran. 

            “Dan, kamu kenapa? Sakit?” tanya Andre padaku. 

            “Gak apa-apa,” jawabku seadanya. 

            “Nanti biar aku antar pulang ya? Kayanya kamu gak enak badan,” ujar Andre menawarkan diri.

            “Boleh, makasih,” jawabku mengiyakan, sekalian aku ingin mengenalkan Andre pada Ibu, karena aku selalu bercerita tentangnya.

            Aku dan Andre langsung bergegas ke tempat parkir untuk mengambil mobil. Seketika Langsung kami meluncur ke rumahku. Dari kejauhan tangisan Mila sudah terdengar, kesakitan hatiku kembali terasa. Aku dan Andre langsung masuk kerumah, dan saat membuka pintu, aku mendapati Mila yang sedang duduk yang langsung berteriak hiteris saat melihat kami.

             “Argggghhhhhhhhh……” aku bertanya pada Mila dalam kondisi ingin menangis.

            “Kamu kenapa Mil?” tanpa jawaban Teriakan Mila semakin keras. Aku mengajak Andre keluar, dan menyuruhnya pulang, bukan berniat mengusir tapi ini demi kebaikan. Dan Alhamdulillah dia mengerti. 

            Aku masuk lagi kerumah. Sangat aneh, Teriakan Mila tak sekencang tadi. Pertanyaan timbul dalam benakku. Hampir Setiap hari Mila selalu menangis histeris, hatiku tak pernah berhenti menangis melihatnya.

            Sikap Andre terasa beda, dia seperti ingin menjauhiku dan seperti takut melihatku. 

            “Kamu kenapa Ndre, tiap melihatku kamu seperti lihat setan?” tanyaku. 

            “Hahaha, gak kenapa-kenapa biasa aja,” jawab Andre dengan tawa hambarnya. Aku bercerita pada Andre tentang Mila, Sudah 2 minggu lebih Mila berperilaku seperti ini. Andre hanya diam membisu tak merespon semua perkataanku. Saat masih bercerita, ponselku berdering, ibu menelpon. 

            “Hallo, ada apa bu?” tanyaku sedikit khawatir.

            “Kamu cepat pulang Dan!” jawab ibu dalam keadaan menangis. Aku sangat khawatir, aku meminta Andre mengantarku pulang, awalnya dia menolak, tapi akhirnya dia mau setelah aku memohon.

            Sampai dirumah Aku dikagetkan dengan adanya bendera kuning, dan banyak orang disana dalam suasana berkabung. Dari jauh ibu berlari dan memelukku dengan menangis tersedu.

            “Mila Dan, Mila meninggal,” seperti dipukul baja aku mendengar apa yang ibu ucapkan. Tanpa terasa air mataku jatuh tak tertahankan. 

            Gak mungkin!” aku mengelak dan langsung berlari kedalam rumah. Disana ada Mila yang terbujur kaku tak bernyawa dengan kain putih menyelimuti tubuhnya. Hatiku begitu sakit melihat adik tercintaku tak bernafas lagi. 

            “Mila bunuh diri,” bisik ibu ditelingaku, aku langsung memeluk ibu dan menangis sekencang-kecangnya. Sungguh aku tak percaya ini semua terjadi pada keluarga kami. 

            “Mila sungguh malang, Ya Tuhan.” Ujarku dalam hati.

            Jenazah Mila Akan segera dikebumikan. Dan akupun ikut mengantarnya. Dijalan aku tak berhenti menangis, air mataku tak bisa kutahan. Andre menenangkanku, tapi aku tetap tak bisa menahan duka ini. Kejadian ini begitu menorehkan luka membekas dihatiku.

            Setelah selesai dikuburkan, aku memeluk pusara adik tercintaku yang masih sangat basah. Aku menangis penuh duka, dan berharap pada Tuhan ini hanya mimpi. Tapi apa daya ini nyata aku tak bisa apa-apa. Ibu mengangkat tubuhku dan mengajakku pulang, dia menasihatiku jangan terlalu larut dalam duka. Akhirnya akupun menurut.

            Semalaman aku tak berhenti menangis, pikiranku selalu terbayang Mila. Teringat kenangan dengannya membuat luka ini semakin dalam. Dengan wajah yang sendu aku berangkat kuliah, aku tetap harus semangat. Karena Mila lah aku bisa berkuliah.

            Tiba dikampus, aku tak melihat Andre, tak ada kabar pula jika dia sakit atau ada perlu. Aku merasa sepi tanpa dia, karena dia yang selalu menemaniku dikampus ini. Selesai belajar, aku melihat Andre berjalan menghampiriku. Dia mengajakku ke atas. Dia terkesan terburu-buru dan seperti ingin berbicara padaku. Sampai disana, dia menangis, aku heran, apalagi dia berlutut dikakiku. 

            “Aku mau jujur Dan,” ucap Andre sedikit berteriak. 

            “Aku berhenti kuliah, aku pindah ke luar kota ikut mengurus bisnis ayahku.” 

            “Kenapa mendadak seperti ini?” 

            “Kita akhiri saja hubungan ini, bisa kan?”

            Tentu aku tidak menjawabnya. Aku hanya diam menahan sakit yang sedang aku rasakan. Ucapan Andre dengan tajamnya mengiris-iris hatiku yang bahkan belum sembuh dari duka yang aku rasakan. 

            “Kamu gak apa-apa kan?”

            Aku masih diam, pertanyaannya barusan sebetulnya mengundang tawaku. Tawa diatas rasa sakit. Bisa-bisanya ia bertanya seperti itu disaat aku sudah tidak bisa lagi menahan air mata.

            “Yaudah, pergi aja. Aku baik-baik saja.”

            “Jaga dirimu baik-baik.”

            Ia berlalu begitu saja disaat aku masih terpaku dan setia dengan kesakitan yang masih menggelitik hati ini. Apa tidak terpikir olehnya jikalau aku baru saja kehilangan kedua orang yang aku sayang. Dengan hebatnya ia bisa meninggalkanku disaat aku benar-benar membutuhkan pundaknya untuk bersandar, menumpahkan duka yang belum hilang. 

            Punggungnya kini sudah tidak terlihat, ia lenyap. Entah kapan aku bisa menemuinya lagi, atau bahkan tidak akan bertemu lagi.

            Aku pulang ke rumah dengan hati yang sangat kalut. Kadang aku mencoba untuk menganggap hatiku sendiri sedang mati rasa. Namun gagal. Tatapanku kosong, tidak jelas bahkan akupun entah ingin pergi kemana.

            Tiba-tiba saja aku terpikir bahwa kepergian Andre sebetulnya hanya untuk menghindar. Menghindar dari apa yang telah menimpa keluargaku. Apa Andre yang melakukan perbuatan nista itu kepada Mila? 

            Aku langsung berlari, mencari Andre yang aku yakin belum terlalu pergi jauh dari sekitaran kampus. Aku susuri sudut demi sudut kampus yang cukup luas ini. Tak peduli keringat yang mulai membasahi lekuk tubuhku, aku tetap mencarinya.

            Beruntungnya aku, aku melihat sesosok pria yang sedang mengenakan kaos biru yang tak lain adalah Andre. Aku langsung menghampirinya dan langsung menghantam satu pukulan tepat dipipi kanannya.

            “Kamu kenapa?” tanya Andre heran.

            “Sekarang tinggal jujur saja, kamu kan yang memperkosa adikku?”

            “Astaga. Tega banget kamu nuduh itu sama aku.”

            “Jujur aja, daripada kebohongan kamu gak terungkap dan kamu pergi begitu saja.”

            Banyak orang yang menghampiri kami. Salah satu dari merekapun melerai perseteruan yang sedang terjadi. Andre terlihat tenang, ia bahkan tidak membalas pukulannya terhadapku. 

            “Lihat aja, Ndre. Kamu gak akan pernah bahagia!” teriakku dengan suara yang parau. 

            Aku pergi dari kerumunan dengan perasaan yang sangat tidak menentu. Antara sakit hati, benci, kecewa. Semuanya bercampur, dan terasa sangat menyesakkan.

            “Kamu kenapa?” tanya ibu saat aku duduk di kursi depan rumah.

            “Aku baik-baik saja, bu.” 

            “Tadi Andre kesini, dia pamit sama ibu. Dia sudah menemui kamu kan?”

            “Pamit? Kenapa harus pamit sama ibu? Asalkan ibu tahu, dia yang udah perkosa Mila!” nadaku mulai naik.

            “Ngawur kamu, Dan.” Tegur ibu.

            “Kenapa dia pergi begitu saja setelah semua kejadian kemarin menimpa kita, bu? Ibu harus berpikir panjang,” lanjutku.

            “Asal kamu tahu, tadi Andre dan ibu mengobrol panjang lebar. Dia orangnya baik sekali. Yang paling ibu suka dia itu bijaksana.”

            “Jangan mudah tertipu, bu.”

            “Diam kamu!” suara ibu bergetar dan ia kini menangis.

            “Kenapa, bu?” aku dibuat heran.

            “Kepergian Andre bukan menghindari perbuatan nista yang kamu tunjukkan padanya. Dia pergi atas pilihannya sendiri, demi kebaikan semua orang.”

            “Maksud ibu?”

            “Andre dan Mila pernah dekat, dan ia merahasiakannya dari kamu. Tapi setelah beberapa hari saling mengenal ternyata Mila tengah hamil. Mila meminta pertanggung jawaban Andre, orang yang baru beberapa hari ia kenal. Jelas Andre tidak mau. Tapi ternyata Mila tahu ada hubungan antara kamu dan Andre. Dan ia mengancam Andre dengan hal itu. Karena Andre tetap tak mau mengikuti kemauan Mila, Milapun bercerita tentang hubungan kalian kepada ibu. Hati ibu sakit, Dan. Ibu mendapati berita bahwa Mila hamil diluar nikah dan kamu seorang penyuka sesama jenis. Hati ibu sakit!” tangisan ibu semakin tertahan.

            Tanpa berkata apapun, aku langsung bersimpuh di kaki ibu. Aku meminta maaf atas diriku yang sebenarnya dan atas apa yang telah terjadi.

            “Hingga tadi Andre pamit ke ibu, bahwa ia akan pergi demi menghormati ibu. Ia tahu bagaimana sakit hatinya seorang ibu yang mempunyai anak seorang homoseksual. Ia tidak ingin hubungan kalian membuat hati ibu sakit sehingga ia memutuskan untuk pergi walau dengan jujur ia mengakui bahwa untuk melakukan itu ia merasa berat hati. Ia begitu bijaksana,” lanjutnya.

            Aku masih memegang kedua kaki ibuku, semakin erat. Aku tersedu. Aku merasa bersalah kepada ibu begitupun kepada Andre. Aku sudah menuduhnya melakukan hal yang tidak ia lakukan. 

            “Dani minta maaf, bu. Kita mulai semuanya dari awal lagi.” Kupeluk ibuku, hanya dia orang yang aku punya saat ini. 

            Ternyata Mila yang memanfaatkan keadaan ini. Ia tega menggadaikan aib kakaknya sendiri demi kepentingan pribadinya. Aku tidak kaget mendengar pernah terjalin hubungan antara Andre dan Mila karena Mila hanya memanfaatkan Andre saja. Aku sangat tidak menyangka Mila, adikku bisa sejahat itu. Aku yakin kabar ia diperkosa juga itu rekayasa.

            Aku kembali mengingat Andre, aku sudah mencoba melupakan rasa sakit yang aku rasakan. Semua ini demi kebaikan. Akupun menghubungi Andre, untuk meminta maaf dan sekedar memberi salam perpisahan. 

            Saat wajah ini bisa tersenyum kembali, senyum itu harus kusimpan lagi. Nomor Andre sudah tidak bisa lagi dihubungi. Aku sangat menyesal, seharusnya aku bukan memberi pukulan sebagai salam perpisahan. Mungkin bisa berupa pelukan dan sebuah permintaan, walaupun harus terpisah komunikasi jangan terputus. Hubungan percintaan yang kandas bukan berarti tidak mungkin menjadi hubungan pertemanan. Semuanya terlambat, dan kebodohanku yang menjadi alasannya.

            “Andre, jika aku bisa menemuimu lagi, aku ingin meminta maaf. Bahkan jika kau memintaku bersimpuh dikakimu sekalipun, aku siap. Bisa, kan?” 




By Geen