Jumat, 31 Juli 2015

HotPals: Fauzan Nasrul

Instagram: @fauzan_nasrul


             Sekilas melihat tv dan terhenti di Trans 7, tepatnya di program Hitam Putih yang dipandu oleh Corbuzier, mentalist kenamaan Indonesia itu sedang berbincang dengan seorang selebriti pria yang sangat adorable. Ia adalah Fauzan Nasrul. Tiba-tiba saja ingin membahas tentangnya di Hello, Gaypals! Ini. Check it out!

Ozan on Hitam Putih (1)

Ozan on Hitam Putih (2)

             Sosoknya yang hitam manis ini namanya memang belum terdengar familiar. Pria yang lahir pada tanggal 03 september 1990 ini memulai karirnya dalam film Hattrick arahan Robert Ronny yang dirilis pada tahun 2012. Wajah tampannya kini lebih sering tampil dilayar kaca sebagai pemain FTV yang jumlahnya sudah bisa dibilang tidak sedikit lagi.

            Parasnya begitu manis serta postur tubuhnya yang proporsional membuat dirinya wajar diidamkan banyak khalayak, baik wanita maupun pria.

He is hot

            Tadi ada sedikit dialog lucu yang terjadi ketika Deddy Corbuzier bertanya bagaimana pertama kalinya pemuda yang kerap disapa Ozan ini mengikuti casting. Ia menuturkannya dengan tangan yang selalu menempel dibibir, seperti yang ia katakan sebelumnya ia merupakan seorang yang sebetulnya pemalu. 

            Kurang lebih dialognya seperti ini. CMIIW!

            “Pertama casting Cuma disuruh jalan-jalan aja terus senyum ke arah cewek, dan itu susah, gak bisa-bisa,” jujurnya sambil tertawa.

            “Sama cewek kan susah, terus kalau sama cowok bagaimana?” tanya Corbuzier bergurau.

            “Apalagi itu,” jawab Ozan yang diikuti dengan tawanya hingga terbahak-bahak. 

            Obrolan itu jelas menyinggung masalah dunia per-pelangi-an. Tapi itu hanya gurauan saja. Gue pun dibuat tertawa ketika mereka memperbincangkan itu. 



            Walaupun belum pernah menonton film atau FTV nya si Ozan ini, stalking foto-fotonya di instagram aja sudah bikin mata ini terbuai dengan ketampanannya. Apalagi menontonnya dengan durasi hingga sejam lebih, nyerah deh
Masih cocok jadi Siswa SMA



 Pictures from Instagram: @fauzan_nasrul



By Geen

Only words can explain (Part I)



 
Istimewa
Based on a true Story.           

            Semua orang pasti pernah ngalamin yang namanya naksir seseorang. Itu manusiawi, setiap manusia yang sudah dewasa akan merasakan yang namanya cinta, atau perasaan yang lebih dari sekedar suka. Jikalau jaman dahulu, perasaan itu diungkapkan dengan saling menyurati, atau dengan bantuan teman. Paling getahnya kita hanya akan mendapat ejekan berupa, “Ciee... Ciee...” yang sebetulnya akan membuat kebiasaan kita senyum-senyum sendiri akan makin menjadi. 

            Namun berbeda dengan kaum yang disebut tidak normal, pelangi, Gay, atau nama-nama lainnya. Merasakan perasaan itu sendiri kadang akan ditolak mentah-mentah oleh hati yang paling dalam. Tentu saja, tidak ada saling surat menyurati. Apalagi meminta bantuan teman, bukan dibantu yang pasti akan dijauhi. Perasaan itu sendiri yang kata orang manusiawi, sudah beda lagi ceritanya ketika dirasakan dari seorang ke pria ke pria yang ia taksir. Orang-orang bilang itu hina dan melanggar agama. Lalu bagaimana kabar perasaan itu? Dengan berat hati, pada akhirnya hanya tersimpan saja dengan terus berusaha untuk bisa melupakannya.

            Ini memang merupakan salah satu risiko menjadi seorang Gay. Sialnya lagi jikalau orang yang ditaksir sudah jelas adalah seseorang yang straight. Rasanya logika juga sudah akan lebih dahulu menyuruh hati untuk tahu diri. Dan semua Gay, tentunya mengalami  masalah ini. Kenapa harus disebut masalah? Karena kadang perasaan menghancurkan logika, dengan terus meyakinkan bahwa orang straight yang kita taksir itu bukan homophobic lah, open minded lah, pasti bisa menerima lah. Dan semua itu hanya omong kosong!

The Story begins...

            And now, i’m gonna tell you one of my story about loving a straight. Sekali lagi, semua Gay pasti pernah mengalami kejadian ini, dan aku pun sama. Cerita ini sebetulnya sudah lama, sekitar 4 tahun yang lalu ketika badan ini masih akrab dengan seragam putih abu-abu setiap harinya. Kala itu ada seorang anak laki-laki dengan karismanya, sebut saja Umami. Ia adalah murid termuda dikelas saat itu. Tepatnya tahun 2011, setelah menjadi murid kelas XI di program bahasa, dan dari situlah perkenalanku dengannya terjadi. Sebetulnya pertama kali melihatnya perasaan ini biasa saja, tidak ada yang namanya getaran atau semacam isyarat kalau hati ini sedang merasa tertarik. Hanya sekedar perasaan kagum, karena dia seorang murid yang sangat dekat dengan Tuhan, lalu mejadi ketua kelas pula. 

            Singkat cerita satu tahun berlalu. Setahun ditempatkan dalam satu kelas yang sama, kami tidak pernah saling mengenal satu sama lain, hanya saling tahu nama saja. Dia sangat cuek, dingin. Jangankan untuk sekedar mengobrol, saling menyapapun tidak pernah. Tapi saat itu hati ini belum tahu akhirnya akan bagaimana, sehingga sikapnya bukanlah sebuah masalah. 

            Sebagai murid yang bergumul dengan kesusastraan, bermain di pentas teater di dalam kelas bisa menjadi makanan mingguan. Dan saat kami ditugaskan untuk mementaskan drama dengan berpantun, aku ditakdirkan sekelompok dengannya. Akupun sebetulnya bingung harus menyebut moment itu menyenangkan atau justru menyedihkan. Karena yang aku pikirkan kala itu adalah malas. Satu kelompok dengan orang yang tidak kita kenal tentunya malas, bukan? Apalagi dituntut untuk menampilkan sesuatu yang jenaka itu akan sulit. Yang ada hanya perasaan canggung.

            Sesuai dugaanku, hari pertama kumpul pada saat itu aku dengannya tidak terlibat banyak percakapan. Aku mengobrol dengan rekanku yang lain, diapun sama. Pokoknya diantara kami tidak ada obrolan. Kadang akupun heran mengapa dia seperti itu. Tapi aku juga tidak terlalu memikirkannya, yang jelas aku harus bisa tampil bagus.

            Setelah naskah itu jadi, kamipun mulai latihan. Pada saat itu kami berlatih saling melempar pantun dengan bersemangat. Kami benar-benar tidak tahu bahwa ada sesuatu yang kami lewatkan.

            Akhirnya drama pantun itu menemui masa tesnya. Kelompok kami mendapat posisi untuk tampil terakhir. Ketika kelompok pertama bermain, kami dibuat kaget. Ternyata pak guru kala itu tidak hanya menyuruh untuk saling membalas pantun saja, tapi dilengkapi dengan cerita. Jelas-jelas namanya juga drama pantun. Tapi karena kami kurang teliti kami hanya membuat pantunnya saja. Disela-sela waktu kelompok lain tampil, aku bersama teman-teman sekelompokku berembuk. Saling berpikir untuk menyiasati kesalahan. Akhirnya ide Umami lah yang bisa diterima. Ia menyelipkan cerita, bahwa ia adalah seorang anak yang akan merantau jauh dan aku yang menjadi bapaknya.

            Kelompok kamipun tampil, untungnya diantara kami tidak ada yang keteteran. Semuanya tampil prima seperti tidak ada yang terjadi. Sampai di adegan terakhir saat Umami pamit dari rumah. Ia tiba-tiba memelukku. Sontak aku kaget, akupun berusaha tampil sesantai mungkin. Aku memeluknya kembali. Darisitulah aku merasa ada sesuatu yang aneh, mengusik tepat dihati. Seperti ada sesuatu yang tertahan dan memaksa ingin keluar. Aku dibuat heran kala itu.

            Setelah pentas selesai, kelompok kamipun menjadi kelompok yang paling menghibur. Tentu kami sangat senang. Pada saat itulah aku melihat dia tersenyum tepat ke arahku. Akupun membalas senyumnya. Dan setelah kejadian itulah, aku menjadi sering memikirkan dia. Dan aku langsung menyadari kalau ini perasaan suka, perasaan yang orang laing bilang hina itu.

            Bodohnya aku mengira bahwa setelah kerjasama kemarin itu aku bisa mengenalnya lebih dekat, ternyata salah. Ia kembali menjadi dirinya yang seperti biasa, teman sekelas yang tidak saling mengenal. Tentu aku merasa kecewa, karena hari semakin hari aku terus memikirkannya. Hingga berharap akan ada lagi waktu dimana aku dan dia bisa menjadi partner seperti waktu itu.

            Bulan demi bulan berlalu, tidak ada perubahan. Aku dan dia tetap tidak saling mengenal. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menulis tentangnya menjadi sebuah prosa lirik. Aku suka menulis, aku suka merangkai kata. Tidak peduli orang berkata bahwa retorika merupakan sesuatu hal yang berlebihan, tapi menurutku itu indah. Prosaku kuberi judul “Untaian Kata Usang yang Tak Pernah Usai.”



"Satu ruangan yang dihuni banyak orang memunculkan banyak karakter yang tak sama. Gelap dan terang, siang dan malam, tinggi dan rendah merupakan deretan antonim yang bermakna sama dengan perbedaan itu. Berpuluh kepala memang ada, namun satu yang tak bisa diasingkan dari indera. Ya, hanya satu dan tak lebih dari itu. Dingin, dan tak cukup dikenali. Kenal memang saling mengetahui namun tak dapat diartikan dengan kata akrab. 

          Sorot matanya memunculkan paranoid akan rasa over confident yang menggelorakan kalbu sehingga dentuman nadi dan detak jantung seakan tak dapat terkontrol oleh pikiran. Gila memang, tapi memang inilah kenyataan yang tak bisa dihapus begitu saja. Semuanya muncul tanpa diterka. 

Sifat es itu kadang mencair namun kadang semakin mengeras. Mungkin karena memang tak sedekat bersama kepala-kepala lain sehingga sangat sulit untuk mendekati sang pujangga alam itu. Meskipun banyak jalan menuju Roma, tapi saat ini memang tak ada jalan untuk memasuki relung kalbunya, semuanya buntu. Lika-liku jalan yang membuat otak berkontraksi hebat ternyata hanya jurang yang menjadi ujungnya. 

Tulisan-tulisan khusus yang selalu ditulis dalam forum publik pun tak pernah digubrisnya. Ya memang wajar, “sang kutub” bukan pengagum art pertemanan maya. Disinilah bangkit rasa putus asa tuk dapat menggenggam pasir lebih erat dan tidak membuatnya berjatuhan. Tak jauh juga seperti sedang bercermin dimalam hari tanpa satu titik cahaya sama sekali. Ya, hanya ilusi lah yang membuatnya bisa menjadi nyata tanpa ada rasa gundah, meskipun konsekuensinya hanya sebuah imajinasi yang tak membekas dihati. 

Memang hanya Tuhan yang paling tahu segalanya. Entah pro ataupun kontra hanyalah Dia zat yang maha mengerti segalanya. Namun sosok yang diharapkan mencair itu tetap terkurung dalam hati dan terkunci oleh geliat asa yang menggelitik relung. Lalu kunci itu dibuang entah kemana, sehingga sampai kapanpun akan tetap terpenjara dalam indahnya rasa cinta tak terpijarkan."
                                                                 16 november 2012    -    16:35 

            Itulah prosa pertama dari seri "Untaian Kata Usang yang Tak Pernah Usai". Aku semakin semangat menulis prosa dan berharap suatu waktu ia bisa membaca apa yang aku tulis tentangnya. 




By Geen
                       
           

Hello, Gaypals! On Facebook and Twitter.



Hello, Gaypals! on Facebook

Hello, Gaypals! Blog ini sebetulnya dibuat berdasarkan keisengan saja. Karena tidak ada kesibukan di liburan kuliah akhirnya Geen terpikir untuk membuat sebuah blog untuk kesenangan dan berbagi yang diberi nama Hello, Gaypals! ini.

Sehari setelah blog ini dibuat dan Geen pun sudah memposting beberapa artikel dan cerita pendek. Rasanya kurang afdol jika blog ini tidak dipromosikan. Walaupun cuma berawal dari keisengan, setidaknya blog ini bisa menjadi teman disaat tidak ada aktifitas yang bisa dilakukan. 

Hingga hari ini fanpage HGP (Singkatan dari Hello, Gaypals!) sendiri di facebook masih belum mendapat satu like pun. Ayo bagi yang sudah visit blog ini, fp nya juga dilike, ya. Klik saja ini Hello, Gaypals!

Hello, Gaypals! on Twitter




Dan tepatnya hari ini Geen pun membuat akun twitter untuk HGP, cara promote di twitter dirasa lebih mudah. Klik saja ini Hello, Gaypals! Sama seperti di facebook, di twitter, HGP pun masih sepi. Jangan lupa di follow, ya.

Sebetulnya seberapa banyak jumlah jempolers di facebook, followers di twitter dan visitor di blog bukan menjadi tujuan utama. Namun yang jelas akan lebih mengasyikan ketika banyak orang yang tahu HGP itu apa dan dapat saling mengenal bahkan hingga berteman.




By Geen

Kamis, 30 Juli 2015

Gay Short Story: Elok (OneShot)

Istimewa

 Catatan:
Cerpen ini pernah penulis upload di blog pribadi penulis yang kini sudah dihapus dengan judul "Rupapun Tak Berharga". Selain judul yang dirubah, ceritanya pun mengalami perubahan disesuaikan dengan tema blog ini.


        Lampu kota yang berkelap-kelip seakan mengejekku. Suara-suara bising yang bersumber dari kendaraan bermotor kudengar seperti mencemoohku. Orang-orang berlalu lalang memperlihatkan kemesraannya. Entah itu bersama keluarga, teman, atau bahkan kekasih, seperti ingin membuatku merasa iri. Senyum mereka begitu memancarkan rona kebahagiaan. Mereka berjalan seperti berpijak pada tanah yang tebuat dari emas 24 karat. Karena aku lihat mereka begitu senang menikmati hingar-bingarnya kota metropolitan. Tak seperti aku, yang hanya merasakan kegarangannya saja. Maka dari itu aku menjuluki Jakarta sebagai kota penuh dusta. 

Namaku Rendi. Dulu aku hanyalah seorang bocah kampung yang polos. Bodohnya aku mempercayai orang asing yang sama sekali tak pernah aku kenal. Mereka menawarkanku pekerjaan yang menurut mereka tak perlu menggunakan banyak tenaga. Hanya menawarkan barang-barang dagangannya terhadap orang-orang yang melewati toko bajunya, mungkin tepatnya profesi itu disebut SPB atau Sales Promotion Boy. Aku hanya mengangguk saat diajak, karena pada saat itu aku benar-benar ingin bekerja. Tapi ternyata kebodohan dan kepolosan bisa menjadi sebuah tebing terjal yang diikuti jurang di depannya, yang sewaktu-sewaktu kita bisa terjatuh ke dalam jurang tersebut, layaknya aku.

            Menjadi seorang SPB di kota seperti yang diucapkan orang-orang itu hanya sampah. Mereka menjadikanku sebagai anak-anak jalanan yang meminta belas kasihan orang dengan mengangkat tangan demi uang recehan yang dengan susah payah bisa didapatkan setelah berekspresi memelas. Sungguh menyedihkan, ternyata yang namanya kota lebih berbisa dari sekedar ular kobra. 

            Namun, tak lama kemudian aku bisa keluar dari pekerjaan rendah itu, aku mendapatkan pekerjaan baru dari sobat baruku yang bernama Budi. Dia aku kenal dari teman dekatku Didi yang sama senasib denganku menjadi seorang peminta-minta. Kami tak sengaja terlibat obrolan. Darisitu aku bercerita bahwa aku sudah jengah bekerja sebagai pengemis. Tanpa aku pinta dia menawarkanku pekerjaan. Tanpa pikir dua kali aku langsung menerimanya. Dan pada saat itulah aku kabur dari bendungan penampung anak-anak jalanan yang sangat mengerikan.  

Setiap hari aku harus bergelut dengan sinar matahari yang menatapku ganas. Ia seakan ingin menerkamku dengan cahayanya yang panas. Mengayuh sepeda dengan kedua kaki, melempar kertas bermuatan informasi dengan kedua tangan yang tak pernah merasa lelah mencari sesuap nasi dengan menetapkan profesi sebagai loper Koran. Dan inilah pekerjaan baruku.

Aku merasa lebih nyaman menjadi seorang loper Koran. Mengayuh, melempar, rasanya tidak terlalu menyedihkan. Tak seperti menjadi seorang pengemis yang diharuskan melakoni peran seperti dalam drama, atau singkatnya aku diharuskan untuk ber-acting. Seorang aktor selain mendapat uang yang banyak, mereka juga dibayang-bayangi piala citra yang siap menanti. Sedangkan aku, hanya uang recehan yang bisa masuk ke dalam kaleng rombeng yang diberi sang leader. Serta pukulan atau tamparan yang siap menantiku jika tak mendapat sepeserpun. Kemana uang puluhan juta? Kemana piala citra? Membayangkannya saja aku sudah jenuh.

Seperti biasa aku pulang sekitar pukul 19.00 malam. Aku sudah mengembalikan sisa-sisa Koran yang tidak terpesan. Dan inilah waktu yang tepat untuk aku mengisi perut yang sedari tadi bersenandung memelas untuk segera diisi. Aku sudah sangat lapar, daritadi sudah terbayang nikmatnya nasi padang yang setiap harinya aku santap. Akupun berjalan ke salah satu rumah makan padang yang cukup terkenal disekitar sini. Selain enak, harganyapun murah. Namanya juga hidup sederhana, hal yang paling murahlah yang jadi tujuan utama.

“Uda, aku pesan seperti biasa ya,” ucapku pada salah satu pelayan rumah makan padang tersebut. Kebetulan karena aku pelanggan disini, semua pelayan sudah mengetahui apa seleraku. Jadi tak perlu susah-susah berteriak seperti orang lain.

“Siap dek Rendi,” jawab uda iko yang biasa melayani pesananku.

Aku pulang setelah aku mendapatkan nasi padang ini. Namun langkah kakiku terhenti saat aku melihat seorang pemuda yang tampan. Aku merasa baru melihatnya. Karena setiap hari aku melintasi jalan ini dan tak pernah melihatnya. Jujur saja, parasnya begitu rupawan. Tak tahu mengapa aku begitu tertarik padanya.  Aku ingin sekali mendekatinya, tapi aku lihat secara seksama tampilannya seperti orang kaya. Aku takut dia jijik padaku, maka dari itu aku urungkan niatku. Aku memang seorang Gay, hasrat seksualku terhadap laki-laki jauh lebih besar, bahkan tidak ada hasrat sama sekali kepada perempuan. Lagipula, aku harus jaga sikap. Orang yang kutemui di jalan belum tentu memiliki orientasi seksual yang sama denganku.

***

Seperti biasa aku melemparkan Koran ke rumah-rumah yang bisa dikatakan mewah. Ingin sekali aku bisa memiliki rumah seperti itu. Tapi mungkin hanya sekedar mimpi. Menabung selama 10 tahunpun uangku tak akan pernah cukup untuk membeli sebuah rumah yang tak jauh seperti istana itu. 

Aku sedikit terkejut bercampur senang ketika aku melemparkan Koran ke salah satu rumah, ada seorang pemuda yang langsung memungutnya. Dan pemuda itu adalah pemuda yang kutemui tadi malam. tak tahu kenapa aku begitu bahagia bisa melihatnya lagi. Apalagi sekarang aku tahu dimana dia tinggal. Ternyata dugaanku benar, dia adalah orang kaya. Tanpa sadar aku terpaku melihatnya dari kejauhan, dan tanpa kusadari pula dia sedang melihatku. Aku tersenyum kepadanya, dengan alasan aku tak keingin terlihat gerogi di hadapannya. Namun sayang, senyumanku menghasilkan rasa kecewa. Dia tak membalasnya. Wajahnya begitu ketus dan pergi begitu saja. 

Aku mengelus dada. Mungkin memang aku tak pantas menjadi temannya. Tak apa-apalah, aku juga sudah bisa menerka-nerka apa yang menjadi alasannya untuk tidak berteman denganku. Tapi, meskipun aku tak bisa mengenalnya lebih dekat, aku ingin mengetahui siapa namanya. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya.

***

Kini aku sudah sering sekali melihatnya. Entah itu di jalan, atau saat dirumahnya ketika aku melemparkan Koran. Aku sangat bahagia bisa terus melihatnya meskipun bukan dari jarak dekat. Memandangnya dari jauh saja wajahnya begitu elok apalagi dari dekat mungkin aku bisa sampai tercengang melihat parasnya yang menawan.

Malam ini aku berniat untuk menyapanya, aku tak ingin terus memendam perasaan ini. Daging segar saja jika hanya disimpan, nantinya akan membusuk. Aku takut hatiku bakal membusuk jika terus menyimpan perasaan ini.

Kulihat dia sedang duduk dikursi taman seperti biasanya. Aku yakin dia menunggu jemputan, namun aku tak tahu dia habis dari mana. Aku mulai mendekatinya. 

“Hai, boleh kenalan gak?” ucapku memulai obrolan. 

Namun, dia tak merespon. Dia hanya diam dan memalingkan pandangannya. Jujur kuakui aku sangat kecewa, tapi kucoba untuk sabar dan bertanya kembali.

“Namamu siapa? Aku sering melihatmu, dan aku ingin sekali kenal sama kamu, mungkin kita bisa berteman,” aku sangat menunggu jawabannya. Tapi sayang, dia tetap diam. Tak ada satupun kata yang terlontar darinya. Aku tetap mencoba ramah, walaupun aku cukup kesal.

“Yasudah, jika kamu tak mau, aku pulang,” ujarku hambar tanpa berekspresi. Ternyata memang dia tak mau berteman denganku. Aku harus mencoba tuk menghapus perasaanku sebelum terlalu melampaui batas. Tapi, aku ingin tahu alasannya kenapa dia tak mau berteman denganku, bahkan menjawab pertanyaanku saja tidak.

***

Sekitar pukul 08.00, aku selesai mengantar Koran. Tadi aku melihat dia sedang bermain bersama anjingnya. Aku selalu saja memperhatikannya. Walaupun kusadari dia telah mengecewakanku tadi malam. Tapi tak tahu kenapa aku tetap saja berharap bisa dekat dengannya. 

Aku berjalan menuju rumah Budi. Aku ingin bertemu dengannya, mungkin bisa berbincang-bincang entah soal apa. Bola, atau apa saja yang bisa jadi topik pembicaraan antara pria. Tak sengaja aku menabrak seorang penyapu jalan,

 “Aduh, maaf ibu, saya kurang memperhatikan jalan,” aku sangat tak enak, usianya sudah separuh baya.

“Tak apa-apa mas,” jawabnya ramah. Untung saja dia baik, rasa takutkupun sirna.

Rasanya, aku sering melihat ibu ini. Setelah aku berpikir cukup lama, akupun ingat bahwa ibu ini adalah tukang sapu yang selalu membersihkan taman dimana pemuda yang aku sukai itu selalu duduk menunggu jemputannya. Tiba-tiba timbul dalam benakku untuk bertanya padanya tentang pemuda jutek itu. Aku yakin dia cukup tahu.

“Bu, saya mau Tanya, ibu sering lihat laki-laki yang selalu duduk ditaman sekitar pukul 19.00?” tanyaku dengan nada berbisik.

“Yang cakep itu ya? Tahu, kenapa?” dugaanku benar, ia tahu.

”Aku sangat ingin mengenalnya dari dulu, tapi setelah aku mencoba untuk mendekatinya, jangankan menjawab pertanyaanku bu, tersenyumpun tidak,” pungkasku jujur. 

Bukan menjawab, ibu itu hanya tertawa kecil. Aku jadi bingung sendiri melihat responnya. Aku berpikir kembali apa yang telah aku ucapkan. Tapi aku rasa tak ada kata yang aneh atau bahkan lucu yang bisa membuat orang lain tertawa.

“Ibu, kenapa?” tanyaku penasaran. 

“Tidak apa-apa. Ia memang cakep mas, tapi sayang, dia seorang tuna rungu,” aku terkejut mendengar ucapan ibu itu. Tapi aku yakin bahwa ini bukan lelucon.

“Maksud ibu, dia tidak bisa berbicara dan mendengar?” tanyaku lagi padanya.

“Betul, semua orang mengira bahwa dia laki-laki yang sombong karena jika ditanya tidak pernah menjawab,” tambah ibu itu.

“Lalu setiap jam 19.00, dia darimana dan dijemput siapa?” aku terus bertanya padanya.

“Dia pulang dari sekolah dan dijemput oleh ayahnya,” jawabnya semakin memperjelas.

Aku diam sejenak, lalu aku berpamitan terhadap ibu itu.

“Bu, makasih ya informasinya,” dan ibu itupun mengangguk sambil meneruskan pekerjaannya.

Ternyata dugaanku salah, dia bukanlah sombong melainkan memiliki kekurangan. Memang benar tak ada manusia yang sempurna. Dimana ada kelebihan pasti ada kekurangan, begitupun sebaliknya. Aku sangat bersyukur bisa hidup secara normal meskipun dengan kondisi yang pas-pasan. Ternyata, Rupapun bisa jadi tak ada harganya jika tak dilengkapi dengan kemampuan lain. Tapi aku kan tetap menyukainya, dan tetap berharap menjadi temannya, karena bagiku bukan rupa yang utama melainkan hati dan jiwa yang lebih bisa mencerminkan kepribadian seseorang. 



By Geen