Kamis, 02 Juni 2016

Sedikit tentang Rindu.



Istimewa



Sebetulnya aku masih tidak mengerti. Di saat hati merasakan sesuatu hal yang tidak biasa, seakan ada satu hal yang mengganjal. Tidak memaki, tidak mencaci. Seperti ingin keluar. Berteriak, meluapkan yang tertinggal. Orang sebut ini rindu. Sebuah perasaan yang mendamba sebuah pertemuan. 
 
Kala itu jalan lengang. Hujan turun. Terduduklah dua orang anak manusia yang menyebut dirinya “aku” dan “kamu”. Obrolan mengalir apa adanya, diselingi tawa. Apapun dibahasnya. Masalah pendidikan, perasaan hingga dialog-dialog film yang menurutnya tidak terlalu penting. Kedua bola mata itu saling bertatap. Berisi kekaguman atas apa yang telah diciptakan Tuhan. Keindahan. Darahnya berdesir kala itu. Mengalir lebih cepat, menimbulkan perasaan yang tak bisa diungkapkan secara gamblang. Kelima jarinya menyatu, terselip ke setiap celah. Saling menggenggam. 

Hujan reda. Lalu lalang kendaraan semakin hilang. Pergi. Tidak seperti perasaan yang masih tinggal. Di hati, bersama sebuah harapan. 

Pertemuan itu tidak kilat, hanya terasa singkat. Manusiawi, tidak pernah puas. Hingga muncul perasaan itu, rindu. Ingin mengulang, ingin kembali. Dipeluknya, bersandar di lengannya. 

When I fall in love; there are no butterflies in my stomach, but there is a Godzilla in my chest. – Anonymous.


 by Geen

Sabtu, 20 Februari 2016

When LGBT becomes tranding topic in Indonesia.



           

Istimewa
           Apa yang terbesit pertama kali saat mendengar kata LGBT? Yang jelas pasti banyak yang akan menjawab terasingkan dan sedang hangat diberitakan.

            Sebetulnya entah dari mana awalnya mengapa tiba-tiba kaum pelangi ini menjadi seakan makanan sehari-hari. Di koran ataupun media penyiaran berita lainnya, LGBT hampir selalu menjadi headline news. Mau dikata apa, gue sejujurnya tidak pernah peduli dengan pemberitaan apapun tentang LGBT. Baik promosi atau propogandanya, gue bukan salah satu aktivis, gue hidup sendiri dan tidak tertarik untuk ikut berurusan meminta belas kasihan mengenai hak asasi. This is Indonesia. Sebagaimanapun perjuangan yang dilakukan, toh sudah jelas akan berakhir nihil. Bukan berusaha untuk mematahkan semangat kalian, tapi biarkanlah kehidupan seperti ini hanya menjadi urusan pribadi masing-masing.

            Rasanya, di paragraf tadi gue sukses menjadi orang yang pintar, atau lebih tepatnya sok’ pintar. Lupakanlah, anggap saja gue gak ngomong apa-apa.

            Berawal dari mata kuliah Debate and Discussion beberapa hari lalu, tangan ini mulai gatal mengajak gue untuk menulis pengalaman itu. Kebetulan tema yang menjadi bahan perbincangan saat itu adalah LGBT.

            Apa yang salah dengan menjadi bagian dari LGBT? Dosa? Jika mengaitkannya dengan dosa, semua orang yang hidup pun berdosa dengan caranya masing-masing. LGBT dianggap dosa dan menjijikan, sedangkan kumpul kebo malah dianggap “lebih baik” karena “lebih mendingan”, dilakukan oleh laki-laki dengan perempuan. Tapi bukan saja tetap dosa? Nobody wants to be gay. Benar, kan? Rasanya tak perlu ikut campur menghitung seberapa banyak dosa orang disaat menghitung dosa sendiripun masih kewalahan.

Istimewa
            Salah satu teman sekelas gue berpendapat, LGBT itu dapat mempengaruhi dan termasuk ke dalam penyakit. Intinya dia berpikir bahwa di Indonesia lebih baik tanpa ada LGBT, dan harus diusir. 

            Well, dude. It is not as simple as you think! Gue yakin, jika diusir dan dibiayai negara, kaum LGBT lebih banyak yang akan pindah ke luar negeri daripada memilih tinggal di negara yang jelas-jelas gak menerimanya. Tapi sayangnya, orang-orang di Indonesia hanya bisa koar-koar saja, pandai berteori ini itulah, menjelaskan darimana gay berasal, namun hanya sebatas itu. Apa yang mereka jelaskan tidak dibarengi dengan solusinya. 10 tahun membahas perkara inipun tidak akan pernah selesai. 

            Dan bagi orang-orang yang menganggap bahwa menjadi bagian dari LGBT itu penyakit dan bisa disembuhkan, please answer my question!

            Are you sure that all of your family members are straight? If you find that one of them is part of LGBT, then you just try how to change him or her to become straight as easy as you think. And if it works, do it to others!

            Percayalah, orang-orang disekitarmu ada yang merupakan bagian dari mereka. Jangan terlalu judgemental, jika saudaramu sendiri yang merupakan bagian dari LBGT, bukankah ia juga akan terluka? Gue gak membenarkan perilaku LGBT, i know it is wrong. But, what am i supposed to do? Terlalu munafik untuk berpura-pura menjadi seorang homophobic disaat gue merupakan bagian dari mereka.


By Geen
           
              

Jumat, 29 Januari 2016

Perhaps, Indra Bekti calls this shit.



           
liputan6.com
           
Akhir-akhir ini kasus seputar LGBT memang sedang hangat diperbicangkan berbagai pihak dan kalangan. Sutradara kenamaan Indonesia, Joko Anwar termasuk menjadi salah satunya. Jika dilihat di akun twitter pribadinya, ia sering sekali bercuit mengenai permasalahan tentang kaum pelangi tersebut.

            Well, di tengah naiknya pemberitaan mengenai per-pelangi-an, justru muncul masalah dari dunia entertainment Indonesia yang masih ada kaitannya dengan LGBT, yaitu kasus dilaporkannya Indra Bekti oleh seorang aktor FTV yang bernama Lalu Gigih Arsanofa. Honestly, setelah melihat penampakan seseorang bernama Gigih tersebut, rasanya gue malah tidak pernah melihat wajahnya nongol di tv. Is he really an actor?
 
            Lewat pengacaranya, Gigih mengatakan bahwa ia mendapat ajakan baik secara langsung ataupun berupa pesan singkat dari Indra Bekti untuk berhubungan badan. Bahkan katanya, Gigih pernah mendapatkan perlakuan tidak senonoh, perlakuan yang tidak pantas dilakukan kepada sesama laki-laki, di dalam sebuah kamar. 

Lalu Gigih Arsanofa bersama pengacaranya.
            Aksi aktor yang katanya muncul di Film The Raid 2: Berandal ini pun tentunya menuai banyak komentar dari pengguna social media, atau netizen. Banyak yang justru berkomentar negatif atas tindakannya. Bahkan ada yang menyebutnya munafik dan sok suci, terlalu mudah bertindak tanpa melihat posisi Indra Bekti yang sudah berkeluarga.

            Terlepas dari benar atau tidaknya ajakan Indra Bekti ataupun perlakuannya, yang membuat dirinya dilaporkan ke pihak berwajib sehingga sedang ramai diperbincangan akhir-akhir ini. Ada bukti yang sudah menyebar, sebuah rekaman perbincangan kedua belah pihak di telepon. Bukti yang sangat meyakinkan, bahwa pihak yang dilaporkan memang seorang gay. But, yeah, who knows?

            Just listen carefully!

            Terdengar sekali kecemasan Indra Bekti melalui suaranya. Berkali-kali ia bertanya, berkali-kali ia juga meyakinkan untuk segera mengakhiri kasus ini, demi nama baik pihak-pihak yang terlibat. Sedih juga sih dengernya. Kasihan lebih tepatnya.

            Kalau sudah seperti ini, apa yang harus dilakukan Bekti? Jujur, gue juga menyayangkan tindakan Lalu Gigih Arsanofa yang sudah tega melaporkan Indra Bekti atas kasus yang menurutnya penting, mungkin. Being a gay is not a big deal! Kalau dia gak suka, tinggal bilang dan menjauh, and it means that he is a homophobic. Tapi kalau seperti ini, tentunya ada pihak yang dirugikan. Alih-alih untuk mendapat ketenaran, toh nama dia juga terlanjur tercemar. Kasus yang dia laporkan adalah masalah orientasi seksual yang menyimpang, dan ini tabu. Lihat Jupiter, dulu dia mengaku seorang gay dan karirnya langsung turun. This is Indonesia!

            Jika itu merupakan caranya untuk bisa dikenal banyak orang, he chose the wrong way to be famous. Mungkin memang pada dasarnya stupid people just think which way is the fastest not the best to reach goals. Poor, Indra Bekti. Cup cup cup!


By Geen
           

Selasa, 26 Januari 2016

When i find gay moment among straight people.





Istimewa
            Well, setelah mendapat kesuksesan yang cukup besar selepas merilis “Magic Hour” (2015), Screenplay Films siap merilis film bergenre romance pada tanggal 04 februari 2016 mendatang dengan kembali memasangkan Michelle Ziudith dan Dimas Anggara. Film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama, “London Love Story”.

            Tergabung dalam  salah satu komunitas penggiat dan penikmat film di kota Bandung, gue mendapat kesempatan untuk bisa menonton film ini lebih dulu, secara gratis. Yaitu tepat tadi pagi, tanggal 26 januari 2016 di Empire XXI, Bandung Indah Plaza. Karena ini termasuk kegiatan premiere screening tentunya ada yang spesial, yaitu kedatangan salah satu pemain, Dimas Anggara. 



            Untuk masalah sinopsis, bisa tinggal dilihat langsung di mbah google. Yang jelas ini bukan film yang benar-benar bagus. Tapi tentunya lebih baik dari “Magic Hour” yang berhasil tampil dengan sangat garing. “London Love Story” memiliki nilai plus dari gambarnya yang sangat cantik. Pengambilan gambar di London dan Bali terekam begitu memukau. Penampilan Michelle Ziudith boleh lah dikatakan baik, ia nampak tampil prima memerankan karakter yang bernama Caramel Nugroho. Sentuhan komedi dari Ramzi pun cukup berhasil membuat penonton riuh tertawa. 

            Sebetulnya gue bukan ingin membahas tentang film ini. Jelas, ini bukan film gay. Tapi ada suatu kejadian yang menurut gue menarik perhatian dan lucu. Tentunya kedatangan salah satu pemain lah yang memancing banyak penonton yang datang. Pasti, diantara mereka ada yang berniat untuk bisa berfoto dengan aktor idamannya itu. Namun sayangnya yang bisa berfoto dengan Dimas Anggara hanyalah penonton yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan crew setelah pemutaran film selesai.



            Guess what!? Beberapa diantara penonton yang antusias untuk bisa berselfie ria bareng Dimas adalah laki-laki. Mungkin untuk beberapa orang, hal ini biasa-biasa saja. Pria suka ke artis pria, apa yang salah? Tapi menurut gue pribadi ini agak menggelikan. Karena biasanya hal-hal seperti itu malah menjadi awkward. Namun beruntungnya, salah satu diantara pria-pria itu berhasil menjawab pertanyaan dengan baik. Selain akhirnya bisa berfoto dengan Dimas, pria yang memakai baju biru itupun mendapat merchandise berupa kaos bertuliskan judul film nya.

            Dan yang membuat suasana terbalut tawa adalah disaat pria itu mendekati Dimas untuk berfoto, hampir semua penonton yang ada di dalam theatre bersorak, “Ciee... Cieee...” It felt like LGBT was not a big deal anymore, people thought it was fine and normal!
 
            Itulah moment yang ingin gue ceritain dari awal. Memorable! Bahwa ternyata mereka bisa dengan begitu mudahnya bertingkah seakan-akan laki-laki dengan laki-laki itu bukan perilaku yang menyimpang seperti yang dipikirkan banyak orang. Walaupun mungkin hanya sebatas guyonan, but yeah, i love them.

            Kembali lagi ke film tadi, bagi yang memang suka drama romance dengan bumbu komedi, bisa lah di tonton. I am not allowed to tell the story, but actually it’s predictable. Gue gak merekomendasikan film ini ya, silahkan dipikirkan matang-matang. No matter what kind of movie, when it is free, i will watch it! #BanggaFilmIndonesia #LondonLoveStory #HaPerNas


By Geen